MENTAL DISORDER DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL “00.00” KARYA AMEYLIA FALENSIA KAITANNYA DENGAN PEMBELAJARAN
MENTAL DISORDER DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL “00.00” KARYA AMEYLIA FALENSIA KAITANNYA DENGAN PEMBELAJARAN
Shinta Dety Lisnawati
Universitas Galuh
shintalisnawati56@gmail.com
Abstract
This research was conducted to find the relationship between mental disorder and educational value in the novel 00.00 by Ameylia Falensia in relation to learning. by using a literary psychology approach. This research was conducted using a qualitative descriptive method. The results of this study are to reveal the influence of mental health and educational value in relation to learning. Lengkara's mental health is affected by several aspects, including harsh and unfair treatment from parents, slander from others, bullying and conflict between choices that are not in accordance with wishes and expectations that are not in accordance with reality. The novel 00.00 contains a message about the importance of mental health for society. Especially the younger generation who experience bullying, injustice and violence both in the family environment and in the school environment.
Keyword : Mental disorder, Educational value, learning
Abstrak
Penelitian ini dilaksanakan untuk menemukan hubungan antara mental disorder dan nilai pendidikan dalam novel 00.00 karya Ameylia Falensia kaitannya dengan pembelajaran. dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini yaitu mengungkap pengaruh kesehatan mental dan nilai pendidikan kaitannya dengan pembelajaran. Kesehatan mental Lengkara dipengaruhi oleh beberapa aspek, diantaranya perlakuan kasar dan tidak adil dari orang tua, fitnah dri orang lain, bullying dan pertentangan antara pilihan yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam novel 00.00 mengandung pesan bahwa pentingnya kesehatan mental bagi masyarakat. Khususnya generasi muda yang mengalami bullying, ketidakadilan dan kekerasan baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah.
Kata Kunci : Mental disorder, Nilai Pendidikan, Pembelajaran
Pendahuluan
Mental disorder merupakan bentuk gangguan fungsi mental yang disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap stimuli eksternal dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul gangguan pada struktur kejiwaan. Dalam kehidupannya ada orang yang terlihat selalu gembira dan bahagia, walau apapun keadaan yang dihadapi. dan sebaliknya ada orang yang sering mengeluh dan bersedih hati, tidak bersemangat, serta tidak dapat memikul tanggung jawab. Hidupnya dipenuhi kegelisahan, kecemasan dan ketidakpuasan. Kesehatan mental seseorang setiap saat bisa berubah karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya. Agar kesehatan mental tetap terjaga dengan baik, hendaknya memperhatikan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya, misalnya peserta didik terlihat murung di kelas, kurang bergairah untuk belajar, cemas, merasa rendah diri, badan terasa lesu tidak bersemangat dan gangguan psikologis lainnya.
Hal-hal ini dapat disebabkan oleh adanya masalah yang sedang dihadapi tersebut sehingga berpengaruh terhadap mental kejiwaannya. Untuk itu kesehatan mental sebaiknya didukung berbagai pihak, baik itu pihak keluarga, sekolah maupun masyarakat Kelabilan unsur-unsur mental anak seperti perasaan, minat dan pikiransangat rentan terhadap pengaruh positif ataupun negatif dari luar dirinya sehingga perlu adanya bimbingan, perhatian dan kasih sayang orang tua secara kontinu. Kedekatan orang tua dengan anak memberikan pengaruh yang paling besar dalam proses pembentukan kepribadian dibanding pengaruh yang diberikan oleh komponen pendidikan lainnya.Orang tua yang membiarkan anaknya tumbuh dan mengerjakanapa pun sekehendaknya, merupakan perlakuan yang kurang adil, dan kurang pada tempatnya.Perlakuan yang seperti itu sangatlah kurangbijaksana, demikian pula, perlakuan yang serba ketat dan keras akan membentuk mental anak yang selalu ragu-ragu dan penuh kecemasan.
Dikutip dari (Hardjana, 1994: 66) bahwa psikologi sastra adalah suatu pendekatan yang mempertimbangkan segi-segi kejiwaan dan menyangkut batin manusia, lewat tinjauan psikologi, jadi akan tampak bahwa fungsi dan peran sastra adalah untuk menghidangkan citra manusia yang seadil-adilnya dan sehidup-hidupnya atau paling sedikit untuk memancarkan bahwa karya sastra itu pada hakekatnya bertujuan untuk melukiskan kehidupan manusia. Mempelajari psikologi sastra sama halnya dengan mempelajari manusia dari sisi dalam.
Novel termasuk fiksi karena novel merupakan hasil khayalan atau sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Menurut Waluyo dan Wardani (2009: 3) novel adalah bentuk prosa fiksi yang paling baru dalam karya sastra Indonesia karena baru ditulis sejak tahun 1945-an oleh Idrus, lewat novelnya yang berjudul Aki. Di masa sekarang ini tidak akan dijumpai prosa fiksi yang berbentuk roman, tetapi yang bisa dijumpai adalah prosa fiksi berbentuk novel. Berikutnya istilah novel juga dipaparkan dalam KKBI (dalam Siswantoro, 2013: 28) yang menyatakan "Novel diartikan sebagai karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Masalah yang dibahas tidak sekompleks roman. Biasanya menceritakan peristiwa pada masa tertentu".
Isu mental disorder (mental illness) pada saat ini menjadi isu yang serius dikalangan para generasi muda yang kasusnya didominasi pada dunia pendidikan, khususnya dalam ranah sekolah. Pada saat ini, para siswa cenderung mengalami permasalahan pada kesehatan mental mereka (Saskara dan Ulio, 2020; Yunanto, 2018). Beberapa isu tersebut diperkuat oleh penelitian Kretchy, Blewuada dan Debrah (2021) yang menemukan bahwa adanya peningkatan gangguan mental (mental illness) yang cenderung terjadi kepada anak-anak dan remaja dengan tingkat perkiraan kenaikan 10-20% di seluruh dunia. Beberapa isu pemicu munculnya penyakit mental ini adalah dimulai dari isu stress, depresi, dan bipolar semakin sering terjadi karena beberapa faktor. Bahkan, tidak jarang beberapa remaja menjadi rentan berpikir untuk bunuh diri atau mengakhiri hidupnya (Banfatin, 2017; Santoso, Siti Asiah dan Kirana, 2018; Sofiah, Malek, Raop, 2020).
Belajar merupakan suatu proses tindakan atau pengalaman yang terjadi untuk mendapatkan sesuatu yang baru baik berupa pengetahuan, keterampilan, kemampuan, kemauan, kebiasaan, tingkah laku dan sikap. Sebagaimana ini didukung oleh Prayitno (2009: 203), Prayitno & Belferik Manullang (2011: 85) serta Prayitno & Afriva (2010: 6) menjelaskan secara operasional bahwa belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru. Usaha menguasai yang dimaksud berupa belajar yang sesungguhnya dan sesuatu yang baru dan memahami dengan seksama merupakan hasil yang diperoleh dari aktivitas belajar.
Sehubungan dengan itu, mental sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, karena tujuan belajar adalah ingin mendapat pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap nilai-nilai (Sardiman, 2012: 28). Seorang psikolog, HB. English, menyatakan sehat mental merupakan keadaan yang secara relatif menetap dimana seseorang dapat menyesuaikan diri dengan baik, memiliki semangat hidup yang tinggi, dan terpelihara, serta berusaha untuk mencapai aktualisasi diri yang optimal. Keadaan yang positif dan bukan sekedar tidak adanya gangguan mental.
Untuk sukses mencapai tujuan belajar perlu adanya motivasi. Motivasi (Syaiful, 2011: 152) adalah gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Orang yang memiliki motivasi belajar akan menunjukkan dorongan yang timbul dalam dirinya untuk mencapai tujuan belajarnya. Sedangkan orang yang tidak termotivasi belajar tidak nampak dorongan dalam mencapai tujuan belajar. Sumadi Suryabrata (2008: 30) menyatakan bahwa anak yang memiliki motivasi belajar tinggi dapat diketahui melalui aktivitas-aktivitas selama proses belajar, antara lain: menyiapkan diri sebelum mengikuti pelajaran; mengikuti pelajaran di kelas; dan menindaklanjuti pelajaran di sekolah. Motivasi belajar memiliki kaitan dengan kesehatan mental di kelas. Sebab Bernard (1970: 14) menjelaskan kesehatan mental di kelas sebagai berikut :
“Mental health in the classroom can be emphasized in similar terms. It involves students who are effective, or successful, in the activities of the classroom. The mentally healthy student is one who, justifiably, draws satisfactions from his achievements. Because he is effective and has satisfactions, he is cheerful about his work and his associations. And finally, the mentally healthy student is one who can work for and with others as well as by himself.”
Kesehatan mental di kelas merupakan suasana atau kondisi yang mempengaruhi kesehatan mental siswa di sekolah. Berdasarkan pengertian dan ciri-ciri kesehatan mental yang dikemukakan oleh Maslow dan Mittelman (dalam Kartini Kartono, 2009: 6) dan organisasi kesehatan dunia (WHO), (dalam Yahya Jaya, 2004: 141), maka kesehatan mental yang dimaksud adalah kesehatan mental di kelas yang merupakan kondisi kelas yang meliputi bebas dalam berekspresi, penerimaan yang baik, penghargaan diri, dan rasa terlindungi di kelas. Untuk mendalami hal-hal tersebut, ditelusuri berbagai fenomena yang terjadi terkait masalah kesehatan mental dan motivasi belajar. Apabila mental nya baik maka motivasi belajar siswa akan tinggi, begitupun sebaliknya apabila mentalnya terganggu maka kemungkinan siswa tersebut memiliki motivasi belajar yang rendah. Sesuai dengan novel “00.00” karya Ameylia Falensia Lengkara mengalami bullying, ketidakadilan, kekerasan di keluarga mengakibatkan mentalnya terganggu.
Metode Penelitian
Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif, deskriptif yaitu suatu rumusan masalah yang memandu penelitian untuk mengeksplorasi atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam. Menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Lexy.J. Moleong, pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. 'Penelitian kualitatif berfokus pada fenomena sosial, pemberian suara pada perasaan dan persepsi dari partisipan di bawah studi. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra, yaitu pendekatan dalam menganalisis karya sastra dengan mempertimbangkan segi penokohan untuk mengetahui makna totalitas suatu karya sastra. Pendekatan psikologi sastra juga berupaya untuk menemukan keterjalinan antara pengarang, pembaca, dan kondisi sosial budaya dengan karya sastra.
Hasil dan Pembahasan
Dalam novel 00.00 karya Ameylia Falensia menceritakan tentang lingkungan masyarakat yang saat ini masih lumayan banyak melakukan kekerasan fisik di lingkungan keluarga. Serta bullying yang masih marak terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini tentu akan mengganggu kesehatan mental korbannya. Bahkan tak jarang yang terlihat baik-baik saja di luar memiliki peliknya hidup bahkan mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Karena tidak ada tempat untuk berlindung dan pulang, bahkan keluarganya sendiri. Hal tersebut dibuktikan dalam temuan Wijayanti, Sunarti dan Krisnatuti (2020) yang menemukan bahwa sangat pentingnya pengaruh antara interaksi positif antar anggota keluarga, khususnya ibu dan anak untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan dan rasa aman bagi seorang anak. Dukungan sosial memberikan kontribusi yang sangat besar bagi pertumbuhan seorang anak, khususnya anak-anak yang berusia sekitar 15-20 tahun, yang masih membutuhkan kehangatan ditengah-tengah lingkungan keluarganya. Sejalan dengan temuan tersebut, Kretchy, Blewuada dan Debrah (2021) juga menemukan fakta lain yaitu bahwa sekitar 70% penyakit mental ditunjukkan oleh para generasi yang umumnya berusia sebelum 25 tahun, dan resiko terbesar dari penyakit mental atau mental illness tersebut terhadap tumbuh kembang anak adalah dapat menjadi penyebab utama kecacatan dengan efek seumur hidup yang dapat mengganggu kehidupan sosialnya dan menimbulkan trauma yang mendalam dalam menjalani kehidupannya di masa depan Sebagaimana yang terlihat dalam kutipan berikut:
““Bahkan setelah ini, Kara masih harus berhadapan sama Papa buat ngebahas nilainya yang turun. Kara takut Ma ... Kara takut besok pagi badan kara sakit karena kena pukul Papa.” Air mata gadis itu menunjukkan seberapa tersiksanya dia selama ini......” (Falensia, 2022: 23)
““Gue harus ngomong apa lagi sama Papa?”, kali ini Erik pasti tidak akan mempercayainya lagi, ia pasti akan di pukul lagi, ia pasti akan dibiarkan kedinginan dalam kamar mandi lagi.” (Falensia, 2022: 59)
Berdasarkan kutipan tersebut, rasa ketakutan seorang korban kekerasan akan selalu ada dalam benak korban, apalagi apabila dilakukan berulang oleh pelaku. Hal ini dapat menjadikan trauma yang mendalam bagi korban.
“Lo pikir, lo nendang gue kayak gitu gak sakit? Banting gue kayak gitu gak sakit? Gue pengen jadi Nilam, yang makan doang udah di bilang pinter, yang bangun pagi doang dibilang rajin. Gue gabisa tidur nyenyak karena tekanan yang lo dan Mama kasih! Gue selalu kepikiran luka apa yang bakal gue dapat kalau nilai gue turun? Sakit apa yang bakal gue dapet kalau gue gak lebih dari nilam?!” (Falensia, 2022: 94)
Berdasarkan pada kutipan tersebut, pemberontakan yang dilakukan Lengkara terhadap perlakuan kasar Ayahnya. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan pada mental apabila dilakukan terus-menerus.
“Masnaka membuka kaus yang kotor itu. Pandangannya semakin sayu begitu melihat badannya yang masih penuh bekas luka yang diberikan ayahnya sewaktu kecil dulu. Bekas luka yang Masnaka sendiri tidak tahu kapan akan hilang.” (Falensia, 2022: 213)
Berdasarkan pada kutipan tersebut, selain Lengkara ada tokoh lain yaitu Masnaka yang mendapatkan perlakuan kasar oleh Ayahnya sendiri. Hal ini menjelaskan bahwa luka dari perbuatan kekerasan selamanya akan diingat dan membekas dalam diri korban.
“Kenapa gue selemah ini. Tubuhnya meluruh. Ia menenggelamkan diri ke dasar bathtub. Seluruh tubuhnya diselimuti dinginnya air, sama sekali tidak ada kehangatan yang ia rasakan disana. Pandangan Lengkara mulai gelap, ia hanya bisa merasakan kedinginan yang menusuk kulit, sampai datang seseorang yang menarik tubuhnya keluar dari dinginnya air itu. ....... Ini adalah kali kesekian ia mendapati Lengkara melakukan hal yang sama.” (Falensia, 2022: 62)
Berdasarkan pada kutipan tersebut, gambaran mengenai mental disorder bahwa orang yang menjadi korban kekerasan merasa bahwa dirinya tidak pantas lagi untuk tetap hidup dan pada akhirnya mereka ntuk memilih untuk mengakhiri hidup.
“....kepala Lengkara sudah ada di lantai, dengan tangan yang diikat di belakang tubuhnya. Masnaka juga melihat Triska yang dengan santainya menaruh kakinya diatas kepala Lengkara.” (Falensia, 2022: 188)
Berdasarkan kutipan tersebut, bahwa bullying kerap kali terjadi di lingkungan sekolah. Dalam kutipan tersebut, kasus bullying tersebut termasuk dalam bentuk bullying verba dan bullying psikologis korban diperlakukan dengan sangat keji dengan cara diinjak dengan posisi tangannya diikat kebelakang, selain ia juga mendapatkan perlakuan dipermalukan dihadapan umum (Simbolon 2012).
“Tubuh wanita itu meremang tatkala melihat tangan Masnaka yang memegang sebuah pisau cutter sementara darah menetes dari ujung jari-jari tangan kirinya....” (Falensia, 2022: 224).
Berdasarkan kutipan tersebut membuktikan bahwa banyak sekali kasus yang terjadi di tengah masyarakat mengenai perilaku self-harm atau perilaku menyakiti diri sendiri. Bahkan kasus ini mencapaiangka hingga 20 kasus dalam paruh waktu tahun 2012 (I. R. Lubis dan Yudhaningrum 2020).
“Suara tawa memenuhi kantin SMA Vandalas.Triska baru saja dengan sengaja menumpahkan minuman bersoda ke makan siang Lengkara. Tindakannya tersebut mengundang perhatian dari semua orang yang ada di kantin tersebut. Semua orang tahu bahwa Triska sengaja melakukannya, namun mereka memilih untuk menutup mata dan telinga, memilih untuk ikut menikmati....” (Falensia, 2022: 160)
Berdasarkan kutipan tersebut, bahwa perilaku bullying tidak hanya terjadi dengan kekerasan fisik seperti halnya dengan bullying verba saja, namun juga dengan beberapa tindakan keji lainnya. Hal ini menggambarkan mengenai minimnya pengetahuan masyarakat mengenai mental disorder dan rendahnya moral yang dimiliki oleh lingkungan sosial masyarakat terhadap perilaku bullying, hal dibuktikan dengan respon para tokoh yang hanya diam saja ketika melihat seseorang dalam kondisi dirudung atau mendapatkan perlakuan bullying, parahnya lagi mereka malah menikmati bullying tersebut dan tidak membantu menyelamatkan korban dan para pelaku tidak memiliki rasa bersalah atas perbuatannya (Kartika, Darmayanti, dan Kurniawati 2019).
“Kepala Lengkara dibenturkan untuk kesekian kalinya ke atas meja. Entah sudah keberapa kali, yang pasti saat ini kepalanya terasa sangat sakit. ..... padahal dua hari lalu mereka sudah menceburkan Lengkara ke dalam kolam ikan di taman sekolah. Mereka juga sudah mendorong Lengkara dari atas tangga.....” (Falensia, 2022: 228)
Berdasarkan kutipan tersebut, mengenai kasus bullying yang dianggap lazim terjadi dilingkungan sekolah di Indonesia. Hal ini juga dapat dilihat dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dari tahun 2011, kasus bullying yang ada di sekolah menduduki peringkat teratas berdasarkan pengaduan masyarakat kepada KPAI. KPAI mencatat setidaknya sejak tahun 2011, adanya 269 pengaduan mengenai kasus bullying (Sulisrudatin 2014).
Berdasarkan beberapa kutipan tersebut bahwa bullying, kekerasan sosial, perundungan baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Hal ini sejalan dengan penemuan Muhammad (2009) yang menemukan bahwa kasus bullying ini memiliki berbagai dampak, mulai dari dampak fisik: luka-luka seperti memar, lecet, dada terasa sakit, dan keinginan untuk tidak pergi ke sekolah. Selain itu dampak kedua yaitu dampak verbal, berupa suasana kelas yang tidak kondusif, tidak konsentrasi dalam belajar, merasa minder, dan tidak betah berada di dalam kelas. Dampak lainnya yaitu pada psikis, depresi, tidak nyaman terhadap lingkungan sekolah, malu, takut, dan bahkan memunculkan keinginan bunuh diri.
Kaitan mental disorder dengan peembelajaran yaitu motivasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sehingga faktor tersebut dapat mempengaruhi tingkatan motivasi belajar . Ada enam faktor yang berpengaruh terhadap motivasi belajar, menurut Wlodkowski dalam Haris Mudjiman (2008: 40) dalam Suranto (2009: lviii): a) Sikap (attitude) :merupakan kecenderungan untuk merespon kebutuhan untuk belajar, yang didasarkan padapemahaman pembelajar tentang untung-rugi melakukan perbuatan belajar yang sedang dilakukan; b) Kebutuhan (need): kekuatan dari dalam diri, yang mendorong pembelajar untuk berbuat menuju ke arah tujuan yang ditetapkan; c) Rangsangan (stimulation): perasaan bahwa kemampuanyang diperoleh dari belajar mulai dirasakan dapat meningkatkan kemampuan untuk menguasai lingkungannya, merangsang untuk terus belajar; d) Emosi (affect): perasaan yang timbul sewaktumenjalankan kegiatan belajar; e) Kompetensi (competence): kemampuan tertentu untuk menguasai lingkungan dalam arti luas; dan f) Penguatan (reinforcement): hasil belajar yang baik merupakan penguatan untuk melakukan kegiatan belajar yang lebih lanjut.
Motivasi belajar memiliki kaitan dengan kesehatan mental di kelas. Sebab penjelasan Bernard (1970: 14) dapat dipahami bahwa kondisi kelas yang menggambarkan kualitas kesehatan mental di kelas dapat dilihat dari adanya keefektifan dan kesuksesan dari aktivitas siswa dalam belajar di kelas; kepuasan siswa terhadap hasil jerih payah dan prestasi yang didapatkan; bergembira atau menyenangi pekerjaan dan pergaulannya; serta mampu berkerjasama dengan temannya sebaik bekerjasama dengan dirinya sendiri.
Selain itu, untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dapat dilakukan dengan beberapa cara. Menurut Toeti Soekamto dan Udin Sarifudin Winata Putra (1996: 461) dalam Suranto (2009), cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu: (1) setiap obyek yang diajarkan perlu dibuat menarik; (2) Terapkan teknik-teknik modifikasi tingkah laku untuk membantu siswa bekerja keras; (3) Siswa harus tahu apa yang dikerjakan, dan bagaimana siswa dapat mengetahui bahwa tujuan telah tercapai; (4) Guru harus memperhitungkan perbedaan individu antarsiswa dalam hal kemampuan,latar belakang, dan sikap siswa terhadap sekolah atau subyek tertentu; (5) Usahakan untuk memenuhi kebutuhan defisiensi siswa, yaitu kebutuhan fisiologis ,rasa aman,diakhiri oleh kelompok, serta penghargaan.
Kesehatan mental di kelas yang berada pada kategori cukup sehat dapat diartikan sebagai termanifestasikannya ketidaknyamanan perasaan yang dialami oleh sebagian besar siswa saat belajar termasuk karena guru. Sehingga kemauan, kesukaan dan minat dalam belajar siswa kurang terwujud dengan menunjukkan sikap kontra produktif dalam belajar (Sunarto, 2012: 6). Maka motivasi belajar siswa pun menjadi rendah. Hal ini persis seperti teori Gestalt yang dikutip Nasution (1982) dalam Sunarto (2012: 6) menyatakan belajar tidak mungkin tanpa kemauan untuk belajar, maka kesukaan siswa terhadap sikap yang dilahirkan guru jelas akan memberikan motivasi tersendiri dalam belajar.
Sunarto (2012: 9) menyimpulkan dari pandang beberapa ahli pendidikan seperti Dr. Robert Sylvester (1995), Howard Gardner (1995: 94), Mihaly Csikszentmihalyi (1990: 4) dan Goleman dalam Bobbi Depoter (2001: 22) bahwa dalam proses pembelajaran peran perasaan sangatlah menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sementara motivasi belajar merupakan dorongan yang timbul dalam diri untuk mencapai tujuan belajar. Dengan demikian, motivasi belajar dan kesehatan mental di kelas penting dalam proses belajar mengajar. Sehingga keduanya memiliki keterkaitan
Nilai yang terkandung dalam novel 00.00 yang dapat diterapkan dalam pembelajaran yaitu nilai sosial, bahwa sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan peran orang lain dalam kehidupan. Sedangkan nilai moral, perlakukan dengan baik dan sayangilah orang yang ada di sekitar kita selagi masih ada., memanusiakan manusia (humanisme) meskipun orang tersebut tidak berbuat baik kepada kita, hargailah usaha anak dan jangan paksakan anak untuk selalu mendapatkan yang sempurna, perlunya kita bersikap jujur terhadap diri sendiri, pantang menyerah meskipun banyak rintangan yang harus dilewati, mandiri, kasih sayang, kesetiaan, bersyukur dan berdoa.
Simpulan
Berdasarkan pada analisis tersebut, bahwa dalam novel 00.00 karya Ameylia Falensia terdapat beberapa perilaku kekerasan, ketidakadilan dan bullying yang dialami tokoh masih sering terjadi baik di lingkungan keluaga, di sekolah mapun di lingkungan masyarakat. Hal ini tentu akan mengakibatkan mental disorder pada korban. Kecemasan dan ketakutan akan selalu menghantui menghantui kehidupannya. Mental disorder kaitannya dengan pembelajaran yaitu apabila Kesehatan mentalnyaa terjaga maka motivasi belajarnya akan tinggi, sebaliknya apabila Kesehatan mentalnya terganggu makan motivasi belajarnya akan rendah. Selain itu terdapat nilai pendidikan yang terkandung diantaranya, nilai sosial, bahwa sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan peran orang lain dalam kehidupan. Sedangkan nilai moral, perlakukan dengan baik dan sayangilah orang yang ada di sekitar kita selagi masih ada, memanusiakan manusia (humanisme) meskipun orang tersebut tidak berbuat baik kepada kita, hargailah usaha anak dan jangan paksakan anak untuk selalu mendapatkan yang sempurna, perlunya kita bersikap jujur terhadap diri sendiri, pantang menyerah meskipun banyak rintangan yang harus dilewati, mandiri, kasih sayang, kesetiaan, bersyukur dan berdoa. Pesan yang tersirat dalam novel 00.00 yakni jadilah seseorang yang lebih aware terhadap orang di sekitar kita dan jadilah tempat pulang ternyaman dan pendengar yang baik.
Daftar Pustaka
Falensia, Ameylia. 2021. 00.00. Jakarta: Loveable
Endri R, A., Mujiyanto Y, Rohmadi M. (Oktober 2016) Analisis Psikologi dan Nilai Pendidikan dalam novel Entrok Karya Okky Madasari serta Relevansinya sebagai Mteri Pembelajaran Sastra di Sekolah Menengah Atas. BASASTRA Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya
Lexy 1. Meleong, Mendologi Penelitian Kualizand (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), h.4
Kartini Kartono, Mental Hygiene (Bandung : Alumni,1983), h. 2
Komentar
Posting Komentar