ANALISIS STILISTIKA NOVEL HUJAN KARYA TERE LIYE DAN RELEVANSINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
ANALISIS STILISTIKA NOVEL HUJAN KARYA TERE LIYE DAN RELEVANSINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
Teti Rahmawati
Universitas Galuh
tetirahma0@gmail.com
Abstract
This study describes how the author manipulates or utilizes language and the effects caused by the use of language in Tere Liye's novel Rain and its relevance to learning literature in high school. The method used in this study is to apply a qualitative descriptive method using a stylistic approach. The data source used is Tere Liye's novel Rain and its relevance to learning literature in high school. Literature study is a technique used in collecting this data. The results of this study are, the author manipulates or utilizes language in a way, namely: (1) using words that contain emotive expressions including expressions of awe, emotions of love, sadness, pride, confusion, happiness, anxiety, anger, and hatred, shame, surprised and scared, (2) Obfuscating the concept of words through euphemism (3) using the figure of speech as an indirect way of expressing reality which includes metaphors, personification litotes, similes, and hyperbole. The impact of using Tere Liye's language in the Rain novel is that readers can find out the meaning and message of the novel and give the characteristics of the language used by Tere Liye. The novel Rain Tere Liye can be relevant as Indonesian language teaching material in high school because it meets the requirements and criteria for good teaching materials. From this research, it can be concluded that the use of Tere Liye's language in the Rain novel uses emotive expressions, uses euphemisms, and uses figurative language. The impact caused by the use of Tere Liye's language makes the reader able to understand the contents of the novel as well as characterizes the use of the language used by Tere Liye. Based on research on the use of the Tere Liye language using a stylistic approach to the novel Rain, it can be relevant to Indonesian language teaching materials in senior high schools because it complies with the requirements and criteria for good teaching materials.
Keywords: stylistics, Rain novel, emotive, euphemism, a figure of speech
Abstrak
Penelitian ini mendeskripsikan mengenai cara penulis merekayasa atau memanfaatkan bahasa serta efek yang ditimbulkan oleh penggunaan bahasa dalam novel Hujan karya Tere Liye dan relevansinya dalam pembelajaran sastra di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menerapkan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan stilistika. Sumber data yang digunakan dari novel Hujan karya Tere Liye dan relevansinya pada pembelajaran sastra di SMA. Studi pustaka adalah teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data ini. Hasil dari penelitian ini adalah, penulis merekayasa atau memanfaatkan bahasa dengan cara, yaitu: (1) menggunakan kata-kata yang didalamnya mengandung ungkapan emotif meliputi ungkapan kagum, emosi cinta, sedih, bangga, bingung, bahagia, cemas, marah dan kebencian, malu, terkejut dan takut, (2) mengaburkan konsep kata melalui eufemisme (3) menggunakan majas sebagai cara pengungkap realitas secara tidak langsung yang meliputi majas metafora, litotes personifikasi, simile, dan hiperbola. Dampak dari penggunaan bahasa Tere Liye dalam novel Hujan yaitu pembaca dapat mengetahui makna dan pesan dari novel serta memberi ciri khas bahasa yang digunakan oleh Tere Liye. Novel Hujan karya Tere Liye dapat direlevansikan sebagai materi ajar Bahasa Indonesia di SMA karena sesuai dengan syarat dan kriteria materi ajar yang baik. Penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pemanfaatan bahasa Tere Liye dalam novel Hujan menggunakan ungkapan emotif, memanfaatkan eufemisme dan menggunakan majas. Dampak yang ditimbulkan dari penggunaan bahasa Tere Liye membuat pembaca dapat memahami isi novel serta memberi ciri khas penggunaan bahasa yang digunakan oleh Tere Liye. Berdasarkan penelitian mengenai penggunaan bahasa Tere Liye dengan menggunakan pendekatan stilistika terhadap novel Hujan, dapat direlevansikan ke dalam materi ajar bahasa Indonesia di SMA karena sesuai dengan syarat dan kriteria materi ajar yang baik.
Kata kunci: stilisika, novel Hujan, emotif, eufemisme, majas
A. PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan hasil imajinasi manusia yang bersumber dari kehidupan manusia sebagai inpirasinya. Sedangkan hakikat karya sastra adalah rekaan atau yang lebih sering disebut imajinasi. Imajinasi dalam karya sastra adalah imajinasi yang berdasarkan kenyataan yang ada di sekitar kita (Ratna (2005:312). Karya sastra sendiri dibagi kedalam tiga jenis (genre), yaitu karya sastra prosa, karya sastra drama, dan karya sastra puisi. Cerita pendek (cerpen) dan novel (roman) termasuk kedalam karya sastra prosa.
Dalam karya sastra saat ini yang banyak menarik perhatian dan banyak diminati adalah novel. Menurut Tarigan, (2011) novel merupakan suatu cerita dengan alur yang cukup panjang mengisi satu buku atau lebih yang menggarap kehidupan pria dan wanita yang bersifat imajinatif. Sedangkan menurut Nurgiyantoro (2012:14) novel umumnya terdiri dari sejumlah bab yang masing-masing berisi cerita yang berbeda, hubungan antar bab, kadang-kadang merupakan hubungan sebab akibat, atau hubungan kronologis biasa saja, bab yang satu merupakan kelanjutan dari bab yang lain. Bahkan Sehandi (2014:59) juga berpendapat yang sama, ia berpendapat bahwa novel dapat mengungkapkan seluruh episode perjalanan hidup tokoh-tokoh ceritanya yang terbagi ke dalam sejumlah fragmen (bab atau bagian), namun fragmen-fragmen itu tetap dalam satu-kesatuan yang tidak terpisahkan.
Dalam karya sastra khususnya novel memilki gaya bahasa yang berbeda dibandingkan dengan gaya bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya dalam karya sastra memilki gaya bahasa yang khas, bahasa yang terkandung didalamnya memilki banyak makna, menggunakan bahasa yang direkayasa. Hal itu dilakukan sebagai pembeda dengan bahasa non sastra. Selain itu dalam karya sastra, pengarang akan menggunakan bahasa untuk menyampaikan cerita dengan pola-pola tersendiri sebagai ciri khas mereka, setiap pengarang akan berbeda cara penyampaiannya.
Penulis novel Hujan yaitu Tere Liye memiliki ciri khas tersendiri dalam menggunakan bahasa. Dalam novel Hujan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca, memanfaatkan ungkapan emotif yang menimbulkan emosi pada tokoh dalam novel serta dapat mempengaruhi emosi pembaca, membuat bahasa yang digunakan terkesan lebih halus dengan memanfaatkan eufemisme, serta adanya penggunaan majas agar membuat bahasa yang digunakan memiliki nilai keindahan.
Maka dari itu karya sastra rekayasa bahasa dimanfaatkan oleh pengarang untuk menambah efektivitas pengungkapan. Selain itu dilakukan sebagai pembeda dengan bahasa non sastra. Rekayasa bahasa dilakukan melalui berbagai cara, yaitu:
Adanya ungkapan emotif yang dapat menimbulkan emosi positif dan negatif melalui penggunaan kata-kata.
Sejalan dengan Sudaryat (2006:26) menjelaskan bahwa makna emotif yaitu makna yang timbul akibat reaksi dari penutur terhadap penggunaan bahasa dalam dimensi rasa, makna emotif sering disebut juga makna afektif. Sedangkan menurut Pratiwi (2011:29) emotif adalah suatu emosi yang ditimbulkan akibat adanya reaksi pembicaraan atau sikap pembicara terhadap apa yang dipikirkan atau dirasakan hal mana melibatkan perasaan (pendengar dan pembicara, pembaca dan penulis) ke arah positif atau negatif.
Melalui eufemisme untuk mengaburkan konsep kata.
Kata eufemisme menurut etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu euphemism yang artinya berbicara baik. Eufemisme juga diartikan halus, elegan dan lemah lembut. Eufemisme berfungsi sebagai penghalus dengan mengganti kata-kata yang memiliki konotasi ofensif dengan ungkapan lain, agar sesuatu yang dirasakan menggangu atau kurang enak menjadi lebih enak didengar dan bahkan menjadi sebutan yang sifatnya positif. Hal itu sejalan dengan pendapat Tarigan dalam Zolkifli (2011: 85) bahwa eufemisme adalah penggunaan bahasa yang merupakan ungkapan-ungkapan halus untuk menggantikan ungkapan-ungkapan kasar.
Adanya penggunakan majas sebagai pengungkap realitas secara tidak langsung.
Menurut Dale & Warriner dalam Pradopo (1985:104) yang mengatakan bahwa majas adalah bahasa yang digunakannya yaitu bahasa kiasan untuk meningkatkan dan memperbanyak efek melalui cara memperbandingkan dan memperkenalkan suatu benda satu dengan benda lainnya.
Hakikat Stilistika
Untuk mengkaji bagaimana seorang sastrawan memanfaatkan atau merekayasa bahasa dalam suatu karya satra dapat menggunakan pendekatan stilisktika. Stilistika sendiri merupakan sebuah ilmu yang mempelajari mengenai gaya bahasa dalam suatu karya satra. Secara harfiah stilistika berasal dari kata stylistic (Inggris) yang berarti ilmu mengenai style atau gaya bahasa atau bahasa yang bergaya. Dan menurut Teeuw (dalam Fananie, 2000:25) stilistika adalah instrumen yang digunakan oleh pujangga untuk mendapatkan suatu misi yang berkaitan dengan bahasa agar memperoleh keindahan. Dengan begitu stilistika berhubungan dengan cara pujangga dalam mengekspresikan perasaan, pikiran dan pengetahuan mereka dalam sebuah karya menggunakan ciri khasnya. Maka dalam stilistika mengkaji cara sastrawan memanipulasi atau memanfaatkan unsur serta kaidah yang ada dalam bahasa dan dampak yang timbul akibat dari penggunaan bahasa.
Hasil dari analisis cara sastrawan merekayasa atau memanfaatkan bahasa dalam karya satra dapat direlevansikan kedalam materi ajar di sekolah yang sesuai dengan kurikulum. Materi ajar atau bahan ajar adalah suatu bahan ajar atau materi pelajaran yang tersusun secara sistematis dan menggandung pesan, yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah (Panen, 2001). Kesuksesan dan keberhasilan suatu pembelajaran sangat bergantung terhadap ke kreatifan guru dalam memilih bahan ajar dan materi ajar untuk pembelajaran di SMA yang sesuai dengan kurikulum yang digunakan dalam mata pelajaran yang berkaitan. Maka dari itu penulis tertarik untuk mengalisis novel Hujan karya Tere Liye dari aspek stilistika dan relevansinya dalam pembelajaran sastra di SMA.
B. METODE PENELITIAN
Sebuah cara untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan mengumpulkan dan menganalisis data agar mencapai tujuan yang diinginkan itulah yang dinamakan metode penelitian. Penelitian yang digunakan ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif. Hal mana metode deskriptif digunakan sebagai metode untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai suatu objek yang dianalisis. Adapun metode deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan data-data dalam novel Hujan karya Tere Liye yang berkaitan dengan cara Tere Liye merekayasa atau memanfaatkan bahasa dan dampak dari penggunaan bahasa itu dengan menggunakan pendekatan stilistika serta relevansi hasil kajian stilistika tersebut dalam pembelajaran sastra di SMA.
Data yang dikaji atau dianalisis dalam penelitian ini yaitu aspek bahasa yang digunakan Tere Liye dalam novel Hujan dalam pembelajaran sastra di SMA. Sumber data penelitian ini berupa dokumen. Hal mana dokumen penelitian ini berupa novel. Novel yang digunakan adalah novel Hujan karya Tere Liye yang diterbitkan oleh PT Gramedia pada tahun 2016. Materi ajar sastra di SMA digunakan untuk mencari relevansi hasil penelitian analisis stilistika ini dalam materi ajar pada pembelajaran sastra di SMA.
Studi pustaka adalah teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data ini, dengan cara mengumpulkan data dan melihat acuan dari banyak teori serta informasi dari buku-buku ilmiah yang mendukung dalam penelitian ini. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data penelitian, yaitu:
Memulai dengan membaca serta memahami novel Hujan karya Tere Liye
Mengklasifikasi data, hal ini berfungsi untuk mengelompokkan bahasa yang digunakan Tere Liye dalam merekayasa atau memanfaatkan bahasa dalam karyanya.
Menganalisis penggunaan bahasa dalam novel Hujan karya Tere Liye.
Menganalisis dampak dari penggunaan bahasa yang diperoleh dari novel Hujan karya Tere Liye.
Menganalisis hasil analisis stilistika yang relevan terhadap pembelajaran sastra di SMA.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil penelitian ini berupa deskripsi tentang stilistika dalam novel Hujan karya Tere Liye dan relevansinya dalam materi ajar Bahasa Indonesia di kelas XI dan XII SMA. Aspek yang dikaji dalam penelitian ini meliputi pemanfaatan bahasa Tere Liye dalam novel Hujan hal mana menggunakan kata-kata yang didalamnya mengandung ungkapan emotif, mengaburkan konsep kata melalui eufemisme dan menggunakan majas sebagai cara pengungkap realitas secara tidak langsung.
Dalam menggunakan kata-kata yang mengandung ungkapan emotif, Tere Liye menggunakan beberapa ungkapan emotif meliputi ungkapan kagum, emosi cinta, sedih, bangga, bingung, bahagia, cemas, marah dan kebencian, malu, terkejut dan takut. Dampak yang terjadi akibat adanya penggunaan ungkapan emotif ini adalah pembaca lebih memahami pesan apa yang disampaikan penulis, memahami isi dan makna yang terkandung dalam novel.
Adanya pemanfaatkan gaya bahasa Eufemisme untuk mengaburkan konsep agar di dalam novel Hujan bahasa yang digunakan terkesan lebih halus. Eufemisme berfungsi sebagai penghalus dengan mengganti kata-kata yang memiliki konotasi ofensif dengan ungkapan lain, agar sesuatu yang dirasakan menggangu atau kurang enak menjadi lebih enak didengar dan bahkan menjadi sebutan yang sifatnya positif. Penggunaan eufemisme ini membuat ujaran atau perkataan penutur sampai kepada pemahaman pendengar tanpa adanya ketersinggungan perasaan. Sehingga nantinya pembaca akan memahami pentingnya penggunaan eufemisme terhadap kesantunan berbahasa untuk menjaga keharmonisan dan kenyamanan dalam bertutur kata.
Selain itu yang terakhir dalam penggunaan bahasa Tere Liye novel Hujan terdapat penggunaan majas sebagai cara pengungkap realitas secara tidak langsung, majas yang terdapat dalam novel Hujan meliputi meliputi majas metafora, litotes personifikasi, simile, dan hiperbola. Dampak yang ditimbulkan dari penggunaan bahasa Tere Liye membuat pembaca dapat memahami isi novel serta memberi ciri khas penggunaan bahasa yang digunakan oleh Tere Liye.
Berdasarkan penelitian mengenai penggunaan bahasa Tere Liye dengan menggunakan pendekatan stilistika terhadap novel Hujan, dapat direlevansikan ke dalam materi ajar bahasa Indonesia di SMA karena sesuai dengan syarat dan kriteria materi ajar yang baik. Sesuai pada pembelajaran sastra yang terdapat pada KD 3.11 menganalisis pesan dari buku fiksi yang dibaca dan KD 3.9 menganalisis isi dan kebahasaan pada novel karena sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapai oleh peserta didik dan sesuai dengan syarat dan kriteria materi ajar yang baik.
Pembahasan
Berdasarkan analisis stilistika novel Hujan karya Tere Liye yang meliputi penggunaan bahasa Tere Liye dalam Novel Hujan. Rekayasa bahasa sangat berpengaruh dalam pengungkapan gagasan pengarang didalam karyanya. Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa setiap penulis akan memiliki ciri khas sendiri dalam karyanya. Begitupun dengan gaya bahasa yang digunakan oleh Tere Liye dalam novel Hujan. Ada beberapa cara yang dilakukan Tere Liye dalam merekayasa dan memanfaatkan bahasa pada novel Hujan ini, yaitu :
A. Penggunaan Bahasa Tere Liye dalam Novel Hujan
1. Adanya ungkapan emotif yang dapat menimbulkan emosi positif dan negatif melalui penggunaan kata-kata.
Dalam novel Hujan karya Tere Liye menggunakan kata-kata yang mengandung ungkapan emotif, Tere liye menggunakan beberapa ungkapan emotif yang meliputi ungkapan kagum, emosi cinta, sedih, bangga, bingung, bahagia, cemas, marah dan kebencian, malu, terkejut dan takut. Adapun berikut ini adalah hasil temuan ungkapan emotif pada novel Hujan karya Tere Liye
Ungkapan Emosi Kagum
Emosi yang sebanding dengan keheranan atau takjub tetapi kurang menggembirakan. Atau dapat dikatakan ungkapan emosi kagum adalah suatu luapan emosi baik itu heran, takjub ataupun tercengang yang dapat disampaikan melalui tulisan atau lisan atau suatu ekspresi wajah seseorang. Berikut ini adalah analisis ungkapan emosi kagum yang ditemukan pada novel Hujan karya Tere Liye.
Elijah menutup mulutnya “Ya tuhan, aku tau cerita itu! Aku mendengar cerita itu beberapa tahun lalu. Saat pelatihan periodik bagi perawatan. Peristiwa itu dijadikan studi kasus. Kami berdiskusi panjang tentang peristiwa itu. Dan kamu... kamu salah satu gadis dalam cerita itu. Masih muda sekali, bahkan belum genap delapan belas tahun.”(Liye, 2016:152)
Elijah menghembuskan napas, berusaha kembali fokus pada tugasnya. Dia hanya bertugas sebagai perantara cerita, fasilitator, agar bando logam bisa memetakan saraf pasien secara utuh. Tidak lebih, tidak kurang. Tapi semua cerita itu tadi membuatnya mulai tertarik secara emosional. Bagaimana mungkin, seorang gadis muda, dengan profil yang dipenuhi catatan pelayanan masyarakat, punya kehidupan yang seru dan menakjubkan, datang ke ruangan kubus untuk melakukan terapi. (Liye, 2016:152)
Dari kutipan dan ungkapan diatas dari novel Hujan karya Tere Liye dapat dikategorikan sebagai ungkapan emosi kagum karena pada ungkapan diatas menyiratkan dan menjelaskan perasaan kagum sekaligus terkejut yang dirasakan oleh Elijah seorang paramedis senior karena mengetahui ternyata gadis yang sedang ditanganinya adalah gadis yang berbakat dan seorang gadis muda bernama Lail yang dikenal sebagai relawan. Sampai Elijah pernah melakukan studi kasus mengenai peristiwa yang ditangani oleh Lail. Dari ungkapan itu Tere Liye dalam menggambarkan emosi kagum yang dimiliki oleh Elijah menggunakan diksi yang sesuai sehingga emosi yang ada dalam cerita sampai kepada pembaca dengan baik. Emosi kagum elijah mampu tersampaikan yang membuat pembaca ikut kagum kepada Lail seorang relawan muda.
Ungkapan Emosi Cinta dan Sayang
Ungkapan emosi cinta dan sayang merupakan luapan seseorang terhadap orang lain baik kepada (keluarga, kekasih atau pasangan, wanita dan laki laki, sahabat, teman karib, guru atau siapapun) yang disampaikan melalui tulisan atau ucapan langsung yang didalamnya mengandung ungkapan kasih sayang dan rasa cinta. Berikut ini adalah analisis ungkapan emosi cinta dan sayang yang didapatkan dari novel Hujan karya Tere Liye.
Satu bulan kemudian, Esok dan Lail menikah, di tengah terik matahari. Esok menggenggam erat jemari Lail, berbisik, “ Kita akan melewati musim panas bersama-sama. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.”(Liye, 2016:317).
Dari kutipan dan ungkapan diatas dari novel Hujan karya Tere Liye dapat dikategorikan sebagai ungkapan emosi cinta dan sayang karena pada ungkapan diatas menyiratkan dan menjelaskan perasaan cinta dan sayang sekaligus rasa tidak mau kehilangan yang dirasakan oleh Esok terhadap Lail (istrinya). Tere Liye membuat emosi cinta dan sayang yang dimiliki oleh penutur terlihat lebih tulus karena pada ungkapan di atas penutur hanya menginginkan satu hal yaitu kebersamaan bersama Lail. Bahkan hal itu ditunjukan dari gerak tubuh Esok yang menggenggam erat tangan Lail.
Untuk menggambarkan emosi cinta dalam novel Hujan Tere Liye menggunakan kata-kata yang umum tidak ada unsur melebih-lebihkan makna pada ungkapan di atas, Tere Liye lebih menekankan kepada emosi cinta yang begitu tulus yang dirasakan oleh penuturnya.
Ungkapan Emosi Sedih
Ungkapan emosi sedih adalah luapan perasaan sedih atau tangis, meratapi kepedihan yang dirasakan oleh seseorang yang disampaikan melalui ungkapan, tangisan atau kata-kata yang mewakili perasaan sedih tersebut. Berikut ini adalah analisis ungkapan emosi sedih yang ditemukan pada novel Hujan karya Tere Liye.
Lail terduduk di jalanan, ia menangis tanpa suara. Kompleks rumahnya sudah rata dengan tanah. Entahlah, apakah ada tetangga yang selamat. Sejauh mata memandang hanya reruntuhan yang ada. Pagar rumah roboh. Jendela, pintu, genting, semen, dan batu bata berserakan. Juga toren air berwarna oranye menggelinding di jalan.(Liye, 2016:37)
Lima belas menit membiarkan Lail tenggelam dalam kesedihan, esok menyentuh pundak Lail. “ aku harus segera kerumahku, Lail. Kamu mau ikut? (Liye, 2016:38)
Ungkapan dan cerita di atas dikategorikan sebagai ungkapan emosi sedih karena pada kutipan tersebut terlihat jelas penulis Tere Liye menjelaskan kesedihan Lail yang begitu mendalam setelah terjadinya becana alam terjadi yang membuat kerusakan di seluruh bumi, termasuk keadaan rumahnya. Ungkapan emosi sedih yang dirasakan oleh Lail tersebut dapat mempengaruhi emosi pembaca, dalam membaca ungkapan di atas pembaca dapat merasakan betapa pilunya kejadian yang menimpa Lail yang sudah menjadi yatim piatu dan melihat keadaan bumi yang tidak baik-baik saja setelah terjadinya gunung meletus.
Ungkapan Emosi Bangga
Ungkapan emosi bangga adalah suatu luapan perasaan besar hati, merasa gagah (karena mempunyai keunggulan) atau merasa hebat dalam suatu hal, emosi ini disampaikan melalui tulisan atau ungkapan kepada seseorang. Berikut ini adalah analisis ungkapan emosi bangga yang ditemukan pada novel Hujan karya Tere Liye.
Ibu suri tersenyum “ Kalian sungguh membuatku bangga. Sejak Organisasi Relawan didirikan, jarang sekali anak anak usia di bawah delapan belas tahun lulus seleksi.” (Liye, 2016:115)
“Ini acara keluarga, Lail. Kecuali acara resmi, kami baru diantar sopir dan dikawal.” (Liye, 2016:105)
“Otorisasi kode D210579, aku Soke Bahtera, delapan puluh persen teknologi terbang yang ada di mobilmu sekarang adalah hak patenku, aku yang menemukannya. Aku berhak mengambil alih mobil apapun. Segera terbang ke ke Pusat Terapi Saraf.” (Liye, 2016:311)
Ungkapan dan cerita di atas dikategorikan sebagai ungkapan emosi bangga. Emosi bangga itu terlihat jelas dari ungkapan Ibu Sri (pemilik panti) yang merasa bangga kepada anak pantinya karena sudah mengikuti seleksi dan terpilih menjadi Organisasi Relawan di usia muda. (Hujan, 2016:115)
Selain itu ada pula kutipan lain yang menggambarkan emosi bangga atau membanggakan diri dari sosok Soke Bahtera yang mengakui kepnadaiannya dalam menciptakan teknologi terkini, seperti mobil terbang. (Hujan, 2016: 311)
Ungkapan Emosi Bahagia
Ungkapan emosi bahagia adalah luapan perasaan senang yang dirasakan oleh seseorang yang disampaikan melalui ungkapan atau kata-kata yang mewakili perasaan bahagia tersebut atau bisa juga diperlihatkan dengan tertawa dan tersenyum bahagia. Berikut ini adalah analisis ungkapan emosi bahagia yang ditemukan pada novel Hujan karya Tere Liye.
“Kalian lulus.” Ibu Suri terkekeh, membuat tubuh besarnya bergerak-gerak. “ Organisasi Relawan telah mengirimkan hasilnya beberapa menit yang lalu...Astaga, dua penghuni paling susah diatur di panti ini lulus seleksi itu. Aku tidak pernah berani membayanngkannya, bahkan dalam mimpi. Selamat, Lail, Maryam.” (Liye, 2016:115)
Ungkapan di atas termasuk sebagai ungkapan emosi bahagia karena pada kutipan di atas menjelaskan tentang perasaan senang penutur yaitu Ibu Suri karena dua anak pantinya yang masih muda dapat lulus mengikuti seleksi Organisasi Relawan.
Dalam menggambarkan emosi bahagia yang dirasakan oleh Ibu Suri, penulis menggunakan kata-kata yang sesuai untuk menggambarkan emosi bahagia tersebut, sehingga pembaca secara langsung mudah memahami dan merasakan emosi yang digambarkan. Bahkan pembaca dapat dengan mudah membayangkan bagaimana ekspresi penutur saat mengucapkan ungkpan bahagia dalam novel Hujan.
Ungkapan Emosi Takut
Ungkapan emosi takut adalah luapan perasaan gentar (ngeri), segan, gelisah atau khawatir (cemas) dan merasa tidak percaya diri yang dirasakan oleh seseorang yang dapat disampaikan melalui ekspresi wajah, ungkapan atau kata-kata yang mewakili perasaan takut tersebut. Berikut ini adalah analisis ungkapan emosi takut yang ditemukan pada novel Hujan karya Tere Liye.
“Kita memutar, mengambil tangga darurat di belakang.” Wajah petugas semakin tegang, meski lorong terasa lembab, keringat mengucur dilehernya. (Liye, 2016:24)
“Bagaimana kalau dibelakang juga ambruk?” Salah satu penumpang bertanya cemas. (Liye, 2016:24)
“Semoga tidak. Ayo cepat! Cepat!” Petugas berseru (Liye, 2016:24)
Lail mencengram jemari tangan ibunya. Usianya baru tiga belas tahun, tapi itu lebih dari cukup untuk mengerti situasi genting yang sedang dihadapi ratusan penumpang kereta. (Liye, 2016:24)
Ungkapan di atas dikategorikan sebagai ungkapan emosi takut karena pada kutipan di atas menunjukkan emosi takut semua orang termasuk Lail akibat adanya gempa bumi yang diakibatkan adanya gunung meletus disuatu daerah. Tere Liye dalam menggambarkan emosi takut yang dimiliki oleh orang-orang termasuk Lail sangat bagus dalam pemilihan diksinya sehingga mampu menggambarkan keadaan dan emosi takut tersebut. Dan pembaca dapat langsung merasakan bagaimana rasa takut yang dihadapi oleh orang-orang termasuk Lail dalam menghadapi gempa bumi.
Ungkapan Emosi marah
Ungkapan emosi marah adalah luapan perasaan sangat tidak senang, naik pitam kepada suatu hal atau orang yang dapat disampaikan oleh seseorang melalui ekspresi wajah, ungkapan atau kata-kata yang mewakili perasaan marah tersebut. Berikut ini adalah analisis ungkapan emosi marah yang ditemukan pada novel Hujan karya Tere Liye.
“Kenapa kamu tidak berteduh saat hujan turun Lail?” Suara Ibu Suri terdengar hingga ujung lorong lantai dua. Lail jadi tontonan teman-temannya, termasuk Maryam.
“ Kamu sengaja hujan-hujanan, bukan?” Ibu Suru mendelik.
“Bagaimana kalau kamu jatuh sakit? Membuat repot seluruh petugas? Kamu sudah besar, bukan anak kecil lagi yang senang bemain air.”(Liye, 2016:92)
Ungkapan di atas dikategorikan sebagai ungkapan emosi marah karena pada kutipan di atas tampak bahwa Ibu Suri merasa tidak senang dengan kesalahan yang dilakukan oleh Lail sehingga menimbulkan kemarahan Ibu Suri . Dalam menggambarkan emosi marah di atas, Tere Liye menggunakan bahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaan marah yang dirasakan olehIibu Suri , Tere Liye juga membuat emosi tersebut terlihat jelas dengan menjelaskan mengenai kemarahan Ibu Suri yang terdengar sampai ujung lorong lantai dua. Itu menandakan bahwa Ibu suri benar-benar merasa marah dan tidak suka atas perbuatan Lail yang pulang kepanti dengan hujan-hujanan.
Ungkapan marah tersebut digambarkan dengan sangat jelas melalui ucapan yang dilakukan oleh Ibu Suri, sehingga pembaca merasakan bagaimana emosi yang dirasakan oleh Ibu Suri.
Ungkapan Emosi Malu
Ungkapan emosi malu adalah luapan perasaan tersipu oleh seseorang atau karena ada sesuatu yang dirasa tidak enak hati (hina, rendah) karena telah berbuat sesuatu yang kurang baik, yang dirasakan seseorang dan disampaikan melalui ungkapan, ekspresi wajah atau kata-kata yang mewakili perasaan malu tersebut. Berikut merupakan analisis ungkapan emosi malu yang ditemukan pada novel Hujan karya Tere Liye.
“Selamat siang, Bu” Lail menyalami Ibu Esok
“Kamu sudah besar sekali, Nak.” Ibu Esok tersenyum, menatap Lail dari kepala sampai kaki, mengernyit melihat seragamnya.”Kamu sekarang relawan, Lail?, Anggota organisasi?”
“Iya, Bu. Anggota paling muda. Dia baru saja dilantik,” Esok yang menjawab.
“Itu bagus sekali, kamu pasti sudah bekerja keras untuk lulus.”
Lail tersipu malu (Liye, 2016:129)
Ungkapan di atas dikategorikan sebagai ungkapan emosi malu karena pada kutipan tersebut menunjukkan ekspresi malu yang dirasakan oleh Lail. Dengan penggambaran yang tepat Tere Liye dalam menciptakan emosi malu Lail membuat pembaca dapat merasakan emosi yang dirasakan oleh Lail karena dia sudah dipuji oleh Esok dan Ibu Esok.
Ungkapan Emosi Terkejut
Ungkapan emosi terkejut adalah luapan perasaan kaget dan heran atau tidak menduga sesuatu yang dirasakan oleh seseorang yang dapat disampaikan melalui ekspresi wajah, ungkapan atau kata-kata yang mewakili perasaan terkejut tersebut. Berikut ini adalah analisis ungkapan emosi terkejut yang ditemukan pada novel Hujan karya Tere Liye.
Lail mengangguk, balas menyapa. Dia sejak tadi memperhatikan lamat-lamat ibu Esok. Usianya sekitar 45 tahun, rambutnya beruban. Wajahnya lebih tua daripada usianya, mungkin karena dia harus mengurus lima anaknya sendirian. Tatapan Lail terhenti saat tiba di kaki Ibu Esok. Dua kaki itu diamputasi hingga paha. Lail menelan ludah, dia tidak tahu soal itu.
“Dokter tidak bisa menyelamatkan kaki Ibuku,” Esok berbisik. “Harus diamputasi sebelum busuk.”
Lail menahan napas. Kehilangan dua kaki? Itu sangat menyedihkan sekali (Liye, 2016:58)
Ungkapan di atas dikategorikan sebagai ungkapan emosi terkejut karena pada ungkapan di atas menjelaskan bahwa penutur merasa sangat terkejut mendengar bahwa Ibu Esok melakukan amputasi dibagian kakinya. Dalam menggambarkan emosi terkejut yang dirasakan oleh Lail, Tere Liye menggunakan pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan emosi tersebut, dan Tere Liye membuat seolah-olah Lail terkejut dengan berita Ibunya Esok dengan menelan ludah dan menahan napas ketika mengetahuinya.
2. Melalui eufemisme untuk mengaburkan konsep kata
Eufemisme adalah suatu penggunaan bahasa yang merupakan ungkapan. Ungkapan halus untuk menggantikan ungkapan-ungkapan kasar. Kata eufemisme menurut etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu euphemism yang artinya berbicara baik. Eufemisme juga diartikan halus, elegan dan lemah lembut. Eufemisme berfungsi sebagai penghalus dengan mengganti kata-kata yang memiliki konotasi ofensif dengan ungkapan lain, agar sesuatu yang dirasakan menggangu atau kurang enak menjadi lebih enak didengar dan bahkan menjadi sebutan yang sifatnya positif. Berikut adalah hasil temuan eufemisme dalam novel Hujan karya Tere Liye.
Pukul sembilan malam, setelah bercerita, mereka beranjak ke kasur tipis masing-masing. Saatnya tidur. Sebagian besar penghuni tenda khusus anak-anak sudah tidur lelap. Anak-anak itu kehilangan keluarga dan tidak punya tempat bermalam. (Liye, 2016: 63)
Pada contoh di atas merupakan bentuk eufemisme. Karena kata tidak punya tempat bermalam dianggap lebih eufemis karena tempat bermalam yang dimaksud dalam kalimat di atas adalah tempat tinggal, baik rumah, hotel, asrama atau sebagainya. Tere Liye lebih memilih menggunakan tempat bermalam sebagai kata yang eufemis karena kata tersebut lebih halus untuk mengatakan seseorang yang tidak memiliki rumah, hotel, asrama atau sebagainya untuk mereka istirahat dan tidur.
Lail menggeleng. Terisak. Bagaimana dia akan baik-baik saja, salah satu pasien yang sedang dia rawat, anak laki-laki usia enam tahun, meninggal dihapannya. Lail sudah berusaha semampu mungkin menolongnya, melakukan semua prosedur gawat darurat. Anak itu menderita paru-paru basah. Tubuhnya kurus kering. Anak itu menatap Lail terakhir kali sebelum pergi selama-lamanya. (Liye, 2016: 209)
Kutipan diatas termasuk bentuk eufemisme. Karena kata meninggal dan pergi selama-lamanya dianggap lebih eufemis karena meninggal dan pergi selama-lamanya yang dimaksud dalam kalimat di atas adalah orang mati karena, meninggal dan pergi selama-lamanya sama dengan pengertian orang yang mati. Tere Liye lebih memilih menggunakan kata meninggal dan pergi selama-lamanya sebagai kata yang eufemis karena kata tersebut lebih halus untuk mengatakan bahwa seseorang telah mati.
3. Menggunakan majas sebagai cara pengungkap realitas secara tidak langsung
Menurut Dale & Warriner dalam Pradopo (1985:104) yang mengatakan bahwa majas adalah bahasa yang digunakannya yaitu bahasa kiasan untuk meningkatkan dan memperbanyak efek melalui cara memperbandingkan dan memperkenalkan suatu benda satu dengan benda lainnya.
Atau dapat dikatakan bahwa majas adalah teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan yang maknanya tidak langsung menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan atau makna yang tersirat didalamnya. Dampak dari penggunaan bahasa Tere Liye dalam novel Hujan yaitu pembaca dapat mengetahui makna dan pesan dari novel serta memberi ciri khas bahasa yang digunakan oleh Tere Liye.
Majas yang terdapat dalam novel Hujan karya Tere Liye penulis hanya mengambil beberapa data pemajasan, diantaranya yang meliputi (a) majas metafora, (b) majas litotes, (c) majas simile, (d) majas hiperbola, (e) majas personifikasi,.
Berikut ini adalah hasil temuan pemajasan dalam novel Hujan karya Tere Liye.
Majas Metafora
Majas metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat tidak langsung dan implisit. Hal mana hubungan antara sesuatu yang dinyatakan pertama dengan kedua hanya bersifat sugesti, tidak ada kata-kata petunjuk perbandingan eksplisit serta didalamnya mengandung analogi perbandingan atau perumpaan terhadap dua hal yang berbeda.
Berikut ini adalah hasil analisis majas metafora pada novel Hujan karya Tere Liye.
Stadion ramai oleh lautan manusia saat mereka tiba. (Liye, 2016: 45)
Kata yang tercetak miring di atas mengandung majas metafora karena membandingkan dua hal yang sebenarnya berbeda. Lautan manusia memiliki arti bahwa terdapat banyak manusia disuatu tempat.
Majas Simile
Simile adalah suatu majas yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding seperti bagai, seperti, seumpama, laksana, semisal, sebagai, bak dan kata-kata pembanding lainnya.
Dalam novel Hujan terdapat ungkapan yang menggunakan majas simile yang disajikan secara tersirat. Berikut ini adalah analisis ungkapan majas simile yang ditemukan pada novel Hujan karya Tere Liye :
Dan terakhir, Lail juga bersalaman dengan putri Wali Kota yang mengenakan gaun indah. Remaja itu sepantaran dengannya, terlihat sangat cantik, Matannya biru, hidungnya mancung, lesung pipi yang menawan, seperti putri dalam cerita dongeng. Dia juga menyapa Lail dengan ramah. (Liye, 2016:99)
Pada kalimat di atas dikategorikan sebagai majas simile karena terdapat kata ‘seperti’. Kata ‘seperti’ pada konteks tersebut merupakan kata pembanding yang menyatakan persamaan dari dua hal, yaitu kecantikan seseorang dan kecantikan seorang putri dalam cerita dongeng. Pada kalimat di atas Tere Liye membandingkan kecantikan putri Wali Kota dibuat sama dengan kecantikan putri dalam cerita dongeng, yang artinya Kecantikan putri Wali Kota yang sangat begitu indah terlihat seperti putri dalam cerita dongeng yang memiliki kecantikan yang luar biasa. Maka dari itu Lail membandingkan kecantikan Putri Wali kota seperti cerita dongeng yang pernah dia baca atau ketahui.
Majas Personifikasi
Personifikasi merupakan suatu majas yang mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat layaknya makhluk hidup seperti dapat berbuat, berpikir, melihat, mendengar, dan sebagainya seperti manusia.
Majas personifikasi membuat hidup lukisan, dan memberi kejelasan gambaran, memberi bayangan angan secara konkret.
Berikut ini adalah hasil analisis majas persoifikasi pada novel Hujan karya Tere Liye.
Empat puluh detik yang terasa lama sekali, atap lorong akhirnya berhenti runtuh mengejar penumpang. Lantai lorong kereta kembali solid, tidak bergoyang. Gempa susulan sepertinya telah berhenti, menyisakan pemandangan mengenaskan. Nyaris dua pertiga penumpang tertimbun dibelakang-termasuk salah satu petugas kereta. Hanya belasan penumpang yang selamat. (Liye, 2016: 26)
Kalimat di atas termasuk kedalam majas pesonifikasi karena kalimat itu didalamnya memberi sifat insani pada benda mati. ‘lorong’ merupakan benda mati, sedangkan mengejar berarti lari dan mengikuti. Jadi lorong tersebut seolah-olah bernyawa dan mengejar mengikuti penumpang layaknya seperti manusia.
Majas Hiperbola
Majas hiperbola merupakan gaya bahasa yanggunakan atau dipakai apanila seseorang bermaksud melebihkan sesuatu yang dimaksudkan dibandingkan makna yang sebenarnya dengan maksud untuk menekankan penuturannya. Maknanya yang dilebih-lebihkan itu kadang juga
menjadi tidak masuk akal untuk ukuran nalar yang biasa.
Berikut adalah hasil analisis majas hiperbola pada novel Hujan karya Tere Liye.
Bukan Wali Kotanya. Wali Kota adalah pahlawan. Berkat dialah masa darurat bisa dilewati dengan baik, juga bangkit kembalinya kehidupan kota. Semua karena kerja keras Wali Kota (Liye, 2016: 100)
Kalimat di atas dikategorikan sebagai majas hiperbola karena melebih-lebihkan sesuatu yang terdapat pada kalimat Wali kota adalah pahlawan. Berkat dialah masa darurat bisa dilewati dengan baik, juga bangkit kembalinya kehidupan kota.
Gadis itu menurut, mengenakannya. Sementara belalai robot kembali keposisinya. Lantai pualam kembali menutupi, seolah tidak pernah ada lubang mereka di atasnya satu detik lalu. (Liye, 2016: 7)
Kalimat di atas dikategorikan sebagai majas hiperbola karena melebih-lebihkan sesuatu yang terdapat pada kalimat seolah tidak pernah ada lubang mereka di atasnya satu detik lalu.
Majas Litotes
Majas Litotes adalah majas yang digunakan untuk mengecilkan makna yang sesungguhnya ada dalam suatu kalimat. Biasanya hal ini dimaksudkan untuk merendahkan diri supaya tidak dianggap menyombongkan diri walau yang sebenarnya juga justru untuk menekankan penuturan.
Berikut adalah hasil analisis majas litotes pada novel Hujan karya Tere Liye.
Ibu Esok mendongak, menatap langit mendung. “Semoga paceklik bahan pangan tidak lama. Ibu senang sekali kalian bersedia menemani orang tua ini” (Liye, 2016: 204)
B. Dampak dari penggunaan bahasa Tere Liye dalam novel Hujan
Berdasarkan hasil analisis di atas, tentang bagaimana Tere Liye merekayasa atau memanfaatkan bahasa dengan menggunakan pendekatan stilistika ke dalam novel Hujan tentunya memiliki dampak tersendiri bagi penulis dan pembaca.
Pertama, efek dari adanya penggunaan ungkapan emotif yaitu pembaca dapat merasakan emosi yang diciptakan oleh Tere Liye melalui dialog pada masing-masing tokoh dalam novel Hujan. Sehingga membuat pembaca dapat merasakan apa yang dialami oleh tokoh pada novel Hujan. Dan juga membuat pembaca lebih memahami pesan yang disampaikan oleh pengarang, selain itu juga pembaca dapat ikut memposisikan dirinya dan tergambar sebagai tokoh dalam novel Hujan.
Kedua, penggunaan eufemisme memberikan dampak menggunakan kesantunan berbahasa sehingga membuat pembaca dapat mengetahui betapa pentingnya untuk menggunakan eufemisme atau kesantunan berbahasa dalam memilih kata-kata untuk diucapkan kepada lawan bicara agar dapat menjaga keharmonisan dalam bertutur.
Ketiga, efek dari penggunaan majas ini adalah untuk menambah keindahan bahasa dan sebagai cara pengungkap realitas secara tidak langsung pada karya yang diciptakan oleh Tere Liye dan memberikan kekhasan gaya bahasa yang sering dipilih oleh Tere Liye dalam membuat atau menciptakan karya sastra yang lain sehingga membuat pembaca dapat memahami isi novel serta memberi ciri khas penggunaan bahasa yang digunakan oleh Tere Liye dengan penulis lain.
C. Relevansi analisis stilistika novel Hujan karya Tere Liye dalam pembelajaran sastra di SMA
Novel Hujan karya Tere Liye bisa menjadi materi pembelajaran yang baik karena dapat memenuhi syarat dan kriteria sebagai materi ajar yang baik yaitu : (1) hasil analisis dari novel Hujan karya Tere Liye sesuai dengan KD yang terdapat di kelas XI yakni menganalisis pesan dari buku fiksi yang dibaca dan sesuai dengan KD di kelas XII yakni menganalisis isi dan kebahasaan pada novel, serta sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik (2) hasil analisis novel Hujan karya Tere Liye dapat menjadi materi yang sesuai dan seimbang dalam taraf kesulitan dengan kemampuan siswa untuk menerima materi pembelajaran, (3) jalan cerita yang terdapat dalam novel Hujan karya Tere Liye dapat menunjang motivasi siswa, karena relevan dengan pengalaman hidup sehari-hari siswa, (4) hasil dari analisis novel Hujan karya Tere Liye dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif, dengan berpikir sendiri maupun dengan melakukan berbagai kegiatan, (5) hasil dari analisis novel Hujan karya Tere Liye dapat dijadikan materi pembelajaran karena sesuai dengan prosedur didaktis yang diikuti (6) novel Hujan karya Tere Liye dapat dijadikan materi pembelajaran karena sesuai dengan media pengajaran yang ada di sekolah. (7) Novel Hujan memiliki namyak pesan yang terkandung didalamnya, sehingga cocok untuk menjadi materi pembelajaran sastra di SMA.
D. PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan dapat ditarik simpulan bahwa pemanfaatan bahasa Tere Liye dalam novel Hujan yaitu menggunakan ungkapan emotif, memanfaatkan eufemisme dan menggunakan majas. Dampak yang ditimbulkan dari penggunaan bahasa Tere Liye membuat pembaca dapat memahami isi novel dan dapat memudahkan pembaca dalam menggambarkan situasi dalam novel serta memberi ciri khas penggunaan bahasa yang digunakan oleh Tere Liye.
Berdasarkan hasil analisis penggunaan bahasa Tere Liye dengan menggunakan pendekatan stilistika terhadap novel Hujan, maka hasil analisis tersebut dapat direlevansikan ke dalam pembelajaran sastra di SMA khususnya di kelas XI dan kelas XII karena sesuai dengan syarat dan kriteria materi ajar yang baik.
Berdasarkan hasil analisis dan simpulan pada penelitian ini, maka penulis mengajukan saran bahwa penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif bahan pembelajaran teori dan apresiasi sastra. Hal tersebut dikarenakan novel Hujan ini relevan sebagai materi pembelajaran di kelas XI dan XII SMA, yaitu pada KD 3.11 Menganalisis pesan yang terkandung dari buku fiksi yang dibaca dan KD 3.9 Menganalisis isi dan kebahasaan dalam novel.
DAFTAR PUSTAKA
Liye, T. 2016. Hujan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Nurgiyantoro, B. (2012). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Sehandi, Y. (2014). Mengenal 25 Teori Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak
Pratiwi, A. F. (2011). Makna Emotif Dalam Wacana Poster. Jurnal Bahasa, 27-29.
Zolkifli, N. H. (2011). Unsur Eufemisme Dalam Novel Papa dan Azfa Hanani. Jurnal Bahasa, 85
Liye, T. 2016. Hujan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Komentar
Posting Komentar