ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL 9 SUMMERS 10 AUTUMNS DARI KOTA APEL KE THE BIG APPLE KARYA IWAN SETYAWAN
ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL 9 SUMMERS 10 AUTUMNS DARI KOTA APEL KE THE BIG APPLE KARYA IWAN SETYAWAN
Siva Vaujiyatul A
Universitas Galuh
Sivavaujiyatula100802@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek-aspek sosial meliputi : kekerabatan, ekonomi, pendidikan, dan cinta kasih, dalam novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis konten ( isi ) yang bersifat kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik ketekunana pengamatan. Teknik ketekunan pengamatan adalah teknik dengan melakukan pengamatan secara cermat dan berkesinambungan denan menemukan unsur ysang relevan kemudian memusatkan secara rinci yang berhubungan dengan nilai pendidikan. Dalam teknik yang digunakan dalam Teknik analisis konten yang mengkaji dan membahas unsur struktural dan sosiologi dalam novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Appel karya Iwan Setyawan. Dari pembahasan data diperoleh hasil aspek-aspek sosial dari novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Appke karya Iwan Setyawan meliputi (1) aspek kekerabatan, (2) aspek perekonomian, (3) aspek pendidikan, (4) aspek cinta kasih orangtua kepada anak.
Kata kunci : analisis, novel, sosiologi sastra
Abstract
This study aims to describe social aspects including kinship, economy, education, and love, in the novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple by Iwan Setyawan. The method used in this research is the content analysis method which is qualitative. The subject of this research is the novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple by Iwan Setyawan. Data collection techniques in this study used observational persistence techniques. The observation persistence technique is a technique by making careful and irrational observations by finding relevant elements which are then closed in detail related to the value of education. In the technique used in the content analysis technique examines and discusses structural and sociological elements in the novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Appel by Iwan Setyawan. From the discussion data, the results of the social aspects of the novel 9 Summers 10 Autumns From the City of Apples to The Big Apple by Iwan Setyawan include (1) kinship aspects, (2) economic aspects, (3) education aspects, (4) love aspects parents to children.ng issues or something.
Keywords : analysis, novel, literary sociology
PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan suatu bentuk dari kreativitas dalam penggunaan bahasa yang bersifat indah serta melibatkan pengalaman batin juga imajinasi dari pengarang itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa seorang penulis selalu hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Karya sastra adalah proses kreatif pengarang dalam kaitannya dengan realitas kehidupan sosialnya. Menurut pendapat dari Wallek dan Warren (2013:3), inilah aktivitas kreatif sebuah karya seni. Karya sastra berwujud sebuah peristiwa atau permasalahan yang menarik, sehingga dapat membangkitkan pemikiran dan imajinasi yang memberi makan pada suatu bentuk tulisan. Karya sastra itu sendiri terbagi atas tiga bagian yaitu prosa, puisi, dan drama. Salah satu prosa baru adalah novel dan cerpen.
Karya sastra bersifat rekaan, yaitu apa yang terjadi dalam karya sastra itu merupakan hasil imajinasi dari pengarang. Pengarang menghayati berbagai lila-liku dengan penuh kesungguhan yang kemudian di tuangkan dalam bentuk karya fiksi sesuai dengan arah pandangnya. Oleh karena itu, fiksi menurut Altenbernd dan Levis (dalam Nurgiantoro, 1966:14), fiksi merupakan prosa neegatif yang bersifat imajinatif namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2014: 1230 ), sosiologi sastra merupakan informasi tentang hakikat dan perkembangan masyarakat dari karya sasatra para kritikus dan para sejarawan, yang terutama mengungkap pengaruh pengarang terhadap kedudukan strata sosial asalnya, ideologi politik dan sosialnya serta kondisi ekonominya juga audiens yang dia tuju. Sosiologi sastra tidak dapat dipisahkan dari manusia dan masyarakat yang bergantung pada karya sastra sebagai bahan diskusi. Sosiologi sebagai pendekatan sastra yang tetap mempertimbangkan karya sastra dan aspek sosialnya.
Secara definisi sosiologi sastra diartikan sebagai analisis mengenai suatu karya sastra dengan mempertimbangkan aspek sosial. Definisi lain menyatakan bahwa sosiologi sastra adakah suatu kegiatan pemahaman yang mengungkapkan aspek sosial karya sastra.
Pada dasarnya kedua definisi ini sekaligus menunjukkan arti yang hampir sama yakni
mengklasifikasikan karya sastra sebagai gejala utama. Mengutip pendapat dari Swingewood (dalam Faruk, 2012:1) mendefinisakn sosilogi sebagai sebuah studi yang bersifat ilmiah dan objektif menegai manusia dalam masyarakat, studi menegenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial. Artinya sosiologi adalah bagaimana masyarakat itu tumbuh dan juga berkembang. Dengan kata lain sosiologi terhadap kaitannya dengan institusi dalam lingkup sosial, agama, ekonomi, politik serta keluarga yang mana secara bersama-sama dapat membentuk apa yang dimaksud dengan sturtur sosial.
Sosiologi sastra berkembang cukup pesat, karena kajian teori strukturalisme dianggap stagnan. Kesadaran bahwa karya sastra harus berfungsi sama dengan wilayah kebudayaan lain yang dimotori oleh karya sastra harus dipahami sebagai bagian esensial dari keseluruhan sistem komunikasi. Dalam konteks ini sosiologi sastra dan permasalahan sastra juga berlaku. Dan juga Sosiologi, sastra juga berurusan dengan orang-orang dalam masyarakat dan masalah mereka untuk mengubah masyarakat ini. Dengan demikian, karya sastra dapat dilihat sebagai upaya untuk memulihkan dunia sosial, yaitu hubungan manusia dengan keluarga, lingkungan, politik, negara, ekonomi, dan lain-lain, yang juga akan Sosiologi itu penting. Dari sini dapat disimpulkan bahwa sosiologi dapat memberikan penjelasan yang jelas dari sastra bermanfaat, bahkan dapat dikatakan bahwa pemahaman sastra tidak lengkap tanpa sosiologi (Damono, 1979).
Dalam hal ini, untuk memahami sosiologi sastra, singkatnya sosiologi ssastra merupakan sebuah gambaran mengenai fakta-fakta sosial yang ada di lingkungan masyarakat, baik itu budaya masyarakat, yang sarat dengan persoalan hidup, seperti cinta dan benci, suka dan duka, baik dan buruknya sesuatu hal serta keimanan, yang terpantul dalam karya sastra berupa novel. Oleh karena itu novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan dapat dianalisis berdasarkan pendekatan sosiologi sastra. Dengan demikian pengarang mengangkat judul “ Analisis Sosiologi Novel 9 Summers 10 Autums Dari Kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan “
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif yang mana data yang akan dianalisis serta hasil dari analisis tersebut berbentuk sebuah deskripsi dan tidak berupa deretan angka-angka. Menurut Endraswara, berpendapat bahwa penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak menggunakan angka-angka, tetapi lebih mengutamakan kedalam penghayatan terhadap karakteristik antar konsep yang dikaji secara empiris.
Teknik analisis yang digunakan adalah menggunakan teknik analisis konten sastra. Menurut Endraswara (2013:161) analisis konten merupakan model kaijian sastra yang tergolong baru. Kebaruan tersebut dapat dilihat dari sasaran yang hendak diungkapkan. Yakni, analisis konten yang digunakan apabila peneliti hendak menggungkapkan, memahami, dan menangkap pesan dari karya sastra yang akan diteliti.
Analisis yang berdasarkan pada deskripsi maka proses penelitian yang terjadi secara objektif, didasarkan atas data yang ada. Data yang ada kemudian dideskripsikan sehingga diperoleh gambaran mengenai aspek-aspek yang terdapat dalam novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan. Oleh karena itu metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis isi (content analysis). Holsti (dalam Ibrahim, 2009:97) berpendapat bahwa analisis konten adalah teknik analisis data yang mengambil kesimpulan dengan mengidentifikasi berbagai karakteristik khusus suatu pesan secara objektif dan sistematis. Tujuan dari analisis data ini yaitu untuk mengetahui secara jelas dan terperinci cara memperoleh data serta perkembangan hasil dari suatu penelitian.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah nove 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan cetakan pertama Februari 201. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama Jl Palmerah Barat No 29-37 Jakarta 10270.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Aspek-aspek sosiologi sastra yang terdapat di dalam novel 9 Summers 10 Autums Dari Kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan antara lain:
Aspek Kekerabatan
Kekerabatan yang terjadi pada keluarga Ngatinah (Ibu) yang terdapat pada halaman 32 dan 33.
Kekerabatan yang terjadi pada keluarga Hasyim (Bapak) yang tedapat pada halaman 24.
Kekerabatan yang terjadi antara Iwan dan kakak juga adik-adiknya yang terdapat pada halaman 114 dan 171.
Aspek Ekonomi
Golongan Ekonomi baewah yang terdapat pada halaman 8, 9, 13, 17, dan 34.
Golongan Ekonomi menengah yang terdapat pada halaman 26 dan 35.
Golongan Ekonomi atas yang terdapat pada halaman 160, 181, dan 200.
Aspek Pendidikan
Pendidikan rendah yang terdapat pada halaman 25 dan 33.
Pendidikan tinggi yang terdapat pada halaman 46, 52, 57, dan 148.
Aspek Cinta Kasih
Cinta kasih antara Ibu dan Bapak yang terdapat pada halaman 33.
Cinta kasih antara kakak dan adik-adiknya yang terdapat pada halaman 38 dan 191.
Berikut adalah hasil dan pembahasan dari novel 9 summers 10 autumns dari kota apel ke the big apple karya iwan setyawan. Berdasarkan hasil penelitian aspek-aspek yang terdapat dida;am novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan.
Aspek-aspek sosiologi dalam novel 9 Summers 10 Autumns, karya Iwan Setyawan
Aspek Kekerabatan
Kekerabatan berarti hubungan keluarga. Kekerabatan juga mencakup hubungan dekat, saudara sedarah, perkawinan dan hidup bersama dalam ikatan keluarga atau sosial ( Depdiknas, 2008:495 ). Berikut aspek-aspek kekerabatan yang terdapat pada novel 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan.
1). Kekerabatan yang terjadi pada keluarga Ngatinah (Ibu)
Ngatinah yang harus kehilangan harapan karena dirinya yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya di Taman Siswa Batu. Setelah putus sekolah Ngatinah diasuh oleh kakek dan neneknya. Kondisi ini terlihat pada kutipan berikut:
“ Ibu tidak bisa menyelesaikan sekolahnya di SD Taman Siswa Batu karena penyakit gatalnya ketika memasuki ujian akhir. Ia kemudian membantu Mbok Pah, neneknya, berdagang baju bekas di Pasar Batu “ (9 Summers 10 Autumns, hal 33)
Dari kutipan diatas terlihat Ngatinah yang lebih dekat dengan keluarga neneknya, yaitu Mbok Pah. Setelah berhenti sekolah, Ngatinah membantu Mbok Pah berjualan baju bekas di Pasar Batu. Mbok Pah mengajari Ngatinah Cara membuka warung, melipat baju dan menawar. Setelah satu tahun, Ngatinah akhirnya menjadi lebih cekatan dan tidak canggung lagi untuk membantu Mbok Pah di Pasar.
2). Kekerabatan yang terjadi pada keluarga Hasyim (Bapak)
Hasyim (Bapak) merupakan seorang supir angkot. Hasyim bertemu dengan Ngatinah di Pasar Batu. Semenjak kecil Hasyim belum pernah bertemu dengan orang tua dan saudara-saudara kandungnya. Kondisi tersebut dapat terlihat pada kutipan berikut:
“ Bapakku anak ke enam dari sembilan bersaudara. Ketika berumur tujuh bulan, dia harus pergi ke Malang untuk diasuh oleh adik Bapaknya. Dia besar bersama satu saudara angkatnya, Bu Agik. Bapakku meninggalkan rumahnya ketika ia masih harus mendapatkan air susu ibunya. Ketika ia belum mengenal nama orang tua dan saudara-saudaranya. Ketika ia belum mengenal namanya sendiri” (9 Summers 10 Autumns, hal 24)
Dari kutipan diatas dapat terlihat jika hubungan kekerabatan Hasyim dan orang tua kandungnya tidak terjalin dengan baik karena semenjak umur 7 bulan Hsyim di asuh oleh saudara bapaknya yang berada di Malang.
3). Kekerabatan yang terjadi antara Iwan dengan kakak dan adiknya
Pernikahan Hasyim dan Ngatinah dikaruniai dengan lahirnya lima buah hati mereka yaitu Isa, Inan, Iwan, Rini dan Mira. Sejak kecil hubungan mereka berlima begitu dekat milai dari bermain hingga belajar bersama. Iwan berpisah dengan keluarganya ketika dirinya berkuliah di IPB, kemudian berpisah kembali untuk jangka waktu yang lama pada saat ia bekerja di New York. Selama bekerja di New York, Iwan banyak membantu orang tua dan saudara-saudaranya dari segi materi, kondisi ini dapat terlihat pada kutipan berikut:
“ Sebagai perayaan promosiku, hari ini aku kirim sejumlah dolar ke rekening Mbak Inan, barangkali untuk bantu Mira beli rumah di Karawang. Semoga cukup ya. Oke. Hampir semua sekarang dapat bonus, tinggal Rini dan Mbak Inan saja yang harus menunggu tahun depan. Semoga aku masih di New York, biar bonusnya lancar “ (9 Summers 10 Autumns, hal 114)
“ Setiap akhir bulan, aku menyisishkan sedikit gajiku untuk rumah kecilku. Selain untuk orang tua, aku membuka tabungan untuk adik-adikku, Mira dan Rini, sehingga bisa langsung mengirimi mereka juga “ (9 Summers 10 Autumns, hal 171)
Dari kutipan diatas hubungan darah antara Iwan dan sauadara-saudara kandungnya jelas terlihat. Iwan begitu sayang dan perhatian kepada mereka, ketika Iwan menggenggam kesuksesan setelah bekerja di Amerika, ia tak lupa dengan saudara-saudara dan kedua orang tuanya.
Aspek Ekonomi
Ekonomi ialah suatu ilmu mengenai asas-asas dalam sebuah produksi, distribusi, dan pemakaian barang-barang serta kekayaan ( seperti halnya keuangan, perindustrian, dan perdagangan ) (Depdiknas, 2008:355)
1). Golongan Ekonomi Bawah
Hasyim dan Ngatinah berasal dari keluarga dengan ekonomi yang kurang mampu. Di rumah mungil berukuran 6 x 7 meter keluarga kecil Hasyim dan Ngatinah tinggal. Rumah yang yang berlantaikan semen, dengan penerangan lampu bohlam 5 watt yang hanya digunakan jika akan menggunakan dapur itu pada malam hari. Kondisi ini dapat terlihat pada ktipan berikut:
“ Untuk menghemat listrik, kami hanya bisa memasang lampu bohlam 5 watt berwarna biru tua diatas pintu dapur. Lampu itu hanya kami nyalakan kalau mau masuk dapur saja” (9 Summers 10 Autumns, hal 13)
“ Itulah rumah mungil kami. Di rumah mungil yang berlantaikan semen dengan semua ketidaknyamannya, kami merasakan cinta dan kesedihan bersama-sama” (9 Summers 10 Autumns, hal 17)
“ Di rumah mungil berukuran 6 x 7 meter dan hampir tak berhalaman ini, kami bertujuh berbagi dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur dan satu kamar mandi” (9 Summers 10 Autumns, hal 8)
Kutipan di atas menunjukkan jika Bapak dan Ibu berasal dari dolongan ekonomi bawah. Ini dikarenakan kondisi keuangan mereka yang belum stabil. Bapak hanya seorang kenek angkot sedangkan Ibu hanya sebagai buruh cuci serta harus memenuhi kebutuhan anak-anak mereka jelas sangat kurang. Di sinilah peran Ibu sangat berkontribusi besar, ia harus mengatur seirit mungkin dan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
2). Golongan Ekonomi Menengah
Perlahan keadaan ekonomi Bapak dan Ibu mulai meningkat. Bapak sudah tidak menjadi kenek lagi melainkan Bapak telah menjadi supir angkot. Hasil dari strategi ibu dalam mengelola keuangan serta menabung membawa perubahan pada keluarga mereka. Kondisi ini dapat terlihat pada kutipan berikut:
“ Tahun 1969, setelah empat-lima tahun menjadi kenek, Bapak mendapatkan Surat Izin Mengemudi dan memulai kerja baru sebagai sopir angkot” (9 Summers 10 Autumns, hal 26).
“ Dialah yang membangun ide untuk menabung, mengingatkan kami kalau perlu ke dokter, kalau mobil bisa rusak sewaktu-waktu, kalau rumah bisa bocor, kalau kami butuh makan bergizi” (9 Summers 10 Autumns, hal 33).
Dari kutipan diatas terlihat keuletan Ibu dalam mengatur keuangan dan kerja keras Bapak selama bertahun-tahun membuahkan hasil. Mereka mampu membeli angkot sendiri, meskipun hanya angkot bekas. Bapak dan Ibu memberanikan diri untuk membangu rumah sendiri, meskipun rumah kecil tetapi rumah itu adalah milik mereka sendiri dan mereka sekeluarga tidap perlu lagi menumpang hidup di rumah kakak angkat Bapak. Kebetuhan pendidikan dan gizi anak-anak tetap menjadi prioritas meski masih terlilit utang, setidaknya sudah ada perubahan dalam rumah tangga mereka.
3). Golongan Ekonomi Atas
Setelah Iwan bekerja di New York, keadaan ekonomi keluarganya telah berubah drastis. Iwan sering mentrasfer uang untuk kebutuhan keluarganya di Batu. Iwan benar-benar membawa perubahan ekonomi untuk keluarganya. Kondisi ini dapat terlihat pada kutipan berikut:
“ Aku tak membawa kamera saku Olympus-ku dan meminta tolong untuk memotret kami dengan iPhone” (9 Summers 10 Autumns, hal 160).
“ Matanya sedikit melotot melihat harga sepatu Gucci yang akan kubeli” (9 Summers 10 Autumns, hal 181).
“ Hampir setiap pagi, dari lantai dua belakang rumah, kami menikmati warna pagi menyeruak di anatara Gunung Arjuno dan Gunung Semeru” (9 Summers 10 Autumns, hal 200).
Dari kutipan diatas terlihat peran Iwan yang begitu besar dalam perubahan yang terjadi pada status ekonomi keluarganya. Selama bekerja di New York karirnya terus meningkat hal ini berdampak pada gaji yang diterimanya. Iwan selalu mentrsnfer uang kepada keluarganya yang digunakan untuk membangun rumah dan membiayai kakak dan adik-adiknya kuliah juga pernikahan mereka.
Aspek Pendidikan
Pendidikan merupakan proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang ataupun sekelompok orang dalam mendewasakan manusia dalam upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik (Depdiknas, 2008:326)
1). Pendidikan Rendah
Berdasar dari status ekonomi bawah terkadang membawa dampak pada status pendidikan yang rendah pula. Hal ini terlihat dari status pendidikan Ibu dan Bapak. Ibu bahkan tidak lulus SD hanya mampu mengenyam pendidikan sekolah sampai kelas 6 saja, sedangkan Bapak hanya lulusan SD krena tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP. Kondisi ini dapat terlihat pada kutipan berikut:
“ Ibu tidak bisa menyelesaikan sekolahnya di SD Taman Siswa Batu karena penyakit gatalnya ketika memasuki ujian akhir” (9 Summers 10 Autumns, hal 33).
“ Sayangnya, Bapak harus putus sekolah karena tidak ada biaya. Ia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 2 SMP dan memutuskan untuk bekerja penuh sebagai kenek angkot bersama Pak Ucup “ (9 Summers 10 Autumns, hal 25).
Dari kutipan diatas terlihat bila pendidikan yang rendah sering terjadi karena keadaan ekonomi yang yang rendah pula. Niat dan juga tekad yang kuat apabila tidak didukung dengan kondisi keuangan yang stabil dapat menjadi suatu penghalang bagi seseorang dalam menempuh pendidikan. Tetapi Ibu tidak ingin nasib anak-anaknya seperti dirinya.
2). Pendidikan Tinggi
Berkat kerja keras Bapak dan Ibu, anak-anak mereka bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Sang Ibu tidak ingin kesempatan untuk anak-anaknya dapat mengenyam pendididkan berkurang karena tidak dapat lulus SD. Puncak dari keberhasilan Bapak dan Ibu adalah dalam menyekolahkan anak-anaknya terlihat ketika Iwan dapat menempuh pendidikan di IPB dan menjadi lulusan terbaik. Kondisi tersebut terlihat pada kutipan berikut:
“ Selepas SMA, Mbak Inan berhasil lolos UMPTN dan masuk Jurusan Perikanan di Universitas Brawijaya” (9 Summers 10 Autumns, hal 46)
“ Dengan prestasi ini, ia berhasil lolos PMDK dan masuk Jurusan Kedokteran Hewan di IPB” (9 Summers 10 Autumns, hal 56).
“ 4 Oktober 1997 adalah salah satu hari yang paling indah dan paling menyentuh dalam hidupku. Sebuah perayaan hidup, sebuah kemenangan. Orangtua dan kakak pertamaku, Mbak Inan, datang ke Bogor untuk menghadiri widudaku” (9 Summers 10 Autumns, hal 148).
Dari kutipan di atas dapat terlihat jika pendidikan Iwan dan saudara-saudaranya lebih baik daripada pendidikan
kedua orang tua mereka. Iwan sebagai anak laki-laki satu-satunya mampu mewujudkan cita-cita kedua orang tuanya, ia kuliah di IPB dan berhasil lulus sebagai lulusan terbaik di jurisan FMIPA. Setelah bekerja Iwan ia membantu kakak dan adik-adiknya untuk dapat melanjutkan pendidikan. Hal ini tidak akan terjadi dari usaha keras kedua orang tua mereka.
Aspek Cinta Ksih
Cinta menjadi sebuah dorongan hidup terbesar dalam masyarakat. Cinta kasih merupakan perasaan kasih sayang ataupun perasaan suka terhadap orang lain (Endaswara, 2011:185). Cinta memegang peran yang penting didalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam pernikahan, pembentukan keluarga juga pemeliharaan anak. Cinta kasih dapat terdiri dari cinta kepada orang tua, cinta kepada anak, cinta kepada kekasih dan cinta kepada sahabat.
1). Cinta kasih orang tua dan anak
Cinta Bapak dan Ibu sangatlah besar terlebih untuk anak-anaknya. Kasih sayang yang mereka berikan membuat harapan-harapan yang tetanam pada anak-anaknya dapat tercapai. Dengan kasih sayang dari Ibu dan Bapak, Iwan dan saudara-sauadaranya yang lain menjadikannya sebagai pribadi yang kuat dan juga tegar. Kondisi tersebut dapat terlihat pada kutipan berikut:
“ Setelah Bapak menjual mobil angkot untuk biaya kuliahku, beberapa sahabat SMA mengantar kepergianku ke Bogor pada Jumat pagi itu, di terminal bus Lorena Malang” (9 Summers 10 Autumns, hal 96)
Dari kutipan diatas terlihat bahwa buah cinta dan kasih sayang yang dilandasi pernikahan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk memenuhi kebetuhuhan keluarga yang mana pada akhirnya hal itu akan bermuara pada usaha untuk dapat mewujudkan mimpi-mimpi anak mereka.
2). Cinta kasih antara kakak kepada adik-adiknya
Cinta kasih yang terjadi antara kakak kepada adiknya begitu besar. Seorang kakak akan melakukan apapun agar dapat membuat adik-adiknya bahagia. Hasil dari didikan Ibu menumbuhkan cinta kasih yang begitu besar. Kondisi tersebut dapat terlihat pada kutipan berikut:
“ Aakhirnya beberapa hari sebelum keberangkatanku, Mbak Isa berhasil meminjam uang sebesar 1.000 dolar Amerika pada salah satu orangtua murid lesnya untuk biaya hidup bulan pertamaku di New York”(9 Summers 10 Autumns, hal 191).
Dari kutipan diatas terlihat bahwa cinta kasih Mbak Isa untuk Iwan begitu besar. Mbak Isa rela meminjam uang untuk biaya hidup Iwan selama satu bulan tinggal di New York. Dengan begitu mudahnya Mbak Isa mendapatkan pinjaman, dengan harapan kelak Iwan akan mampu menjadi orang sukses kedepannya.
SIMPULAN
Aspek-aspek sosial yang terdapat di dalam novel 9 Summers 10 Autums Dari Kota Apel Ke The Big Apple karya Iwan Setyawan dapat diklasifikasikan menjadi empat aspek yaitu (1) aspek kekerabatan yang ditunjukkan pada hubungan anatar tokoh, seperti hubungan kekerabatan yang terjalin antara tokoh Ibu dan tokoh Bapak dengan anak-anaknya. Hubungan keluarga itu sendiri sanagatlah erat serta seolah saling melengkapi satu dengan yang lainnya. (2) aspek ekonomi yang terlihat pada pada keluarga Ibu yang menikah dengan Bapak yang keduanya termasuk pada golongan ekonomi bahwah. Tejadi perubahan kelas ekonomi setelah Iwan bekerja di Amerika, Iwan mampu membantu keluarganya secara finansial. (3) aspek pendidikan yang terlihat pada perjuangan Ibu dan Bapak untuk menyekolahkan anak-anaknya semaksimal mungkin. Ibu dan Bapak tidak ingin anak-anaknya mengalami nasib yang sama seperti dirinya yang berpendidikan rendah. Usaha Ibu dan Bapak membuahkan hasil yang memuaskan, Iwan dan saudara-saudaranya yang lain mampu melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. (4) aspek cinta kasih yang terlihat pada penggorbanan dari orang tua terhadap anak-anaknya. Ibu dan Bapak berjuang sekuat tenaga untuk dapat membahagiakan dan mewujudkan impian dari anak-anaknya hal itu mampu menumbuhkan cinta kasih diantara anak-anaknya, seperti Mbak Isa yang rela meminjam uang kepada orangtua murid lesnya untuk membantu biaya hidup Iwan selama satu bulan Iwan tinggal di New York.
DAFTAR PUSTAKA
Damono, S, 2002. Pedoman Penelitian Sastra. Jakarta:Depdiknas
Depdiknas, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Gramedia
Endraswara, S.2011. Metodologi Penelitian Sosiologi Sastra. Yogyakarta : CAPS
Faruk, 2012. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik Sampai Post-modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ibrahim, Abdul S. 2009. Metode Analisis Teks dan Wacana. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Mulyono, D, B, 2014. Analisis Sosiologi Sastra Novel Ibuk, Karya Iwan Setyawan dan Rencana Pelaksanaan Pembelajarannya di SMA. Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Nurgiyantoro, B. 2012. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Setyawan, I, 2011. 9 Summers 10 Autumns Dari Kota Apel Ke The Big Apple,. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Syarifuddin. 2018. Kajian Struktural dan Sosiologi Sastra dalam Novel Seputih Hati yang Tercabik Karya Ratu Wardarita. Jurnal Kata: Penelitian tentang Ilmu Bahasa dan Sastra, Vol. 2, No. 2.
Komentar
Posting Komentar