ANALISIS SOSIOLOGI NOVEL “TUN” TAHUN 2013
ANALISIS SOSIOLOGI NOVEL “TUN” TAHUN 2013
Resta Yunanda
Universitas Galuh
restayunanda7@unigal.ac.id
abstrak
Penelitian ini mendeskripsikan aspek-aspek sosial meliputi : Cinta dan Konflik Kemanusiaan, kehidupan sosial, religi, sosial budaya, dan revolusi dalam novel yang berjudul Tun dengan tahun terbit 2013. Metode yang digunakan adalah metode analisis yang bersifat deskriptip kualitatif. Subjek penelitian ini adalah novel tun tahun 2013. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini mengguanakan teknik pustaka dan teknik catat. Teknik pustaka yaitu dengan menggunakan buku-buku, sumber yang relevan dan teori-teori yang membahas tentang stuktural dan sosiologi. Teknik catatnya yaitu dengan memcatat data-data yang berupa kutipan yang telah di temukan dalam nota penulis. Dalam teknik analisis data yang digunakan Teknik analisis isi yang mengkaji dan membahas unsur structural dan sosiologi dalam nobel Tun tahun 2013. Dari pembahasan data, diperoleh hasil data bahwa aspek-aspek sosial dalam novel Tun tahun 2013 meliputi (1)Cinta dan Konflik (2)Kemanusiaan, (3)kehidupan sosial, (4) religi, (5)sosial budaya, (6) revolusi.
Kata Kunci : sosiologi sastra, aspek sosial
abstract
This study describes social aspects including: Love and Human Conflict, social life, religion, socio-culture, and revolution in the novel entitled Tun, published in 2013. The method used is a qualitative descriptive analysis method. The subject of this study was the 2013 TU novel. Data collection techniques in this study used library techniques and note-taking techniques. The library technique is by using books, relevant sources and theories that discuss structural and sociological issues. The note-taking technique is to record data in the form of quotations that have been found in the author's notes. In the data analysis technique used, the content analysis technique examines and discusses structural and sociological elements in the 2013 Tun nobel prize. From the discussion of the data, the results show that the social aspects in the 2013 Tun novel include (1) Love and Conflict (2) Humanity, (3) social life, (4) religion, (5) social culture, (6) revolution.
Keywords : sociology of literature, social aspects
PEMBAHASAN
Karya sastra adalah salah satu bentuk seni yang masih terus bisa dinikmati di era yang terus berkembang ini. Meskipun diterpa oleh teknologi, karya sastra mampu beradaptasi sehingga dapat dinikmati oleh siapapun. Bahkan, karya sastra lama pun juga tidak pernah lekang dimakan zaman.
Sastra merupakan salah satu istilah yang berasal dari Bahasa Sansekerta. Kata “Sastra” berasal dari kata “Shastra” yang berarti pedoman (shas) pedoman dan sarana (tra). Secara umum, pengertian sastra adalah suatu karya yang berbentuk tulisan dengan makna yang mendalam serta mengandung estetika. Karya sastra pada awalnya hanya berbentuk sebuah tulisan, tetapi seiring perkembangan zaman, kaya tulis didukung dengan ilustrasi khusus. Fungsi ilustrasi karya sastra yaitu untuk memberikan gambaran terhadap pembaca serta memperkuat isi dari suatu tulisan.
Sastra adalah suatu karya yang medium penyampaiannya berupa bahasa dimana di dalamnya menampilkan gambaran kehidupan manusia sesuai dengan kenyataan sehari-hari. Sapardi Djoko Damono (1979) Imajinasi merupakan daya pikir yang membentuk gambaran tentang sesuatu yang tidak terdapat pada indera yang diperoleh dari pengalaman atau kenyataan seseorang secara umum atau gambaran yang bisa dihasilkan meski tidak pernah dirasakan pada kenyataan sebelumnya.
Pengarang mengungkapkan ide-idenya dengan memilik sastra sebagai medianya. Karya sastra tersebut dapat berupa sastra, drama, atau puisi. Pengungkapan ide pengarang ide pengarang lewat puisi tentu akan berbeda saat mengungkapkan lewat drama dan berbeda pula saat mengungkapkan lewat drama demikian puka dalam mengungkapkan lewat novel. menurut Tarigan (2011:45) bahwa novel adalah suatu cerita yang memiliki alur yang panjang dalam suatu buku yang merupakan cerita imajinatif dalam kehidupan tokoh yang ada di dalam cerita tersebut.
Karya sastra dibedakan menjadi beberapa bentuk, yaitu: (1) prosa, bentuk sastra yang diuraikan menggunakan bahasa bebas dan panjang tidak terikat oleh aturan-aturan. (2) Puisi, bentuk sastra yang diuraikan dengan menggunakan bahasa yang singkat dan padat serta indah. (3) Drama, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dengan menggunakan bahasa yang bebas dan panjang, serta disajikan menggunakan dialog serta monolog.
Prosa adalah salah satu karya sastra yang dihasilkan dari proses berimajinasi (Waluyo, 2011: 1). Meskipun prosa didapat dari hasil imajinasi, namun pengarang sudah pernah mengalami kejadian-kejadian yang diceritakan atau paling tidak cerita-cerita itu merupakan pengalaman orang lain. Prosa dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu: roman, cerpen (cerita pendek), dan novel.
Novel adalah sebuah karya fiksi yang mengambil suatu tema tertentu, biasanya tentang realitas kehidupan masyarakat sosial, yang disampaikan sesuai dengan sudut pandang dan imajinasi pengarang. Hal ini sejalan dengan pendapat Nurgiyantoro (2007: 4) bahwa batasan novel sebagai karya fiksi yang menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang dibangun melalui berbagai unsure intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang semuanya bersifat imajinatif.
Novel adalah karya fiksi yang dibangun dari beberapa unsur pendukungnya. Unsur pendukung dalam novel biasanya disebut dengan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur tersebut antara lain: tema, amanat, alur, setting, tokoh dan penokohan, sudut pandang (point of view) dan gaya bahasa. Tema adalah gagasan atau ide yang mendasari suatu karya. Sedangkan latar atau setting adalah sesuatu yang menggambarkan situasi atau keadaan dalam penceritaan. Alur atau plot dapat diartikan cerita yang berisi urutan kejadian, kejadian yang satu mendorong terjadi kejadian yang lain. Tokoh yaitu individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berperan dalam berbagai peristiwa di cerita. Sementara itu sudut pandang ialah teknik yang digunakan pengarang untuk berperan dalam cerita itu. Amanat adalah sikap penulis terhadap persoalan yang terdapat dalam naskah drama yang ingin disampaikan kepada pembaca. Di pihak lain, unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya sastra yang secara tidak langsung mempengaruhi sebuah novel.
Unsur ekstrinsik yang memengaruhi novel antara lain: latar belakang sejarah, riwayat hidup pengarang, kehidupan sosial pengarang, dan lain-lain.
Ratna (2015:25) menyatakan sosiologi sastra adalah penelitian karya sastra dan keterlibatan stuktur sosialnya. Sosiologi sastra tidak terlepas dari manusia dan masyarakat yang bertumpu pada karya sastra sebagai objek yang dibicarakan. Sosiologi sastra sebagai suatu pendekatan terhadap karya sastra yang masih mempertimbangkan karya sastra dan segi-segi sosial.
Dalam hal ini pemahaman sosiologi sastra secara singkat adalah gambaran fakta sosial masyarakat, kebudayaan masyarakat yang penuh dengan persoalan kehidupan, seperti rasa cinta dan kebencian, kebahagiaan dan kesedihan, pro dan kontra, amanah dan dusta, yang terpantul dalam novel. Oleh karena itu novel Tun tahun 2013 dapat dianalisis berdasarkan pendekatan sosiologi sastra. Dengan pendekatan sosiologi sastra akan mampu mengungkapkan keberadaan manusia dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan yang melingkupinya. Permasalahan yang diangkat dalam novel ini merupakan refleksi dari kenyataan yang ada, kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian pengarang mengangkat judul “Analisis Sosiologi Novel yang Berjudul Tun Tahun 2013 ”.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yaitu salah satu cara yang dapat digunakan untuk memudahkan penelitian agar dapat memberikan informasi dan pemaham yang jelas. Dalam kajian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan penggunaan data berupa teks dari hasil analisis karya sastra secara kualitatif, data yang dihasilkan dari metode ini adalah data deskirptif (Sobari,Teti & Hamidah, 2017). Menurut (Wasi, Saripah, Stiyanti, & Mustika, 2018), tujuan metode ini untuk mendeskripsikan nilai sosial yang ada dalam novel berjudulTun karya Nita Roshita. Data yang dihasilkan setelah melakukan kajian yaitu berupapaparan bahasa yang dikutip dalam novel berupa dialog antar tokoh, prilaku, pemikaran dan tindakan tokoh yang mengandung nilai-nilai sosial dalam novel Tun karya yang terbit pada tahun 2013 oleh penerbit Motion Publishing.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pengumpulan data dilakukan dengan langkah mendata kutipan cerita dari novel karya (Nita Roshita, 2013) yang berhubungan dengan pendekatan yakni, 1). Soiologi pengarang, 2). Kondisi sosial, 3). Kondisi sosial masyarakat, 4). Nilai religi, 5). Nilai Sosial budaya (6)Unsur intrinsik dan (7) Nilai Revolusi.
Pembahasan
Unsur-unsur Intrinsik dalam Novel Tun. Tema dalam penelitian novel ini adalah tentang Cinta dan Konflik Kemanusiaan, yang didalamnya ada 4 tokoh inti yang bernama Nina, Timor, Alex dan Tun.
Nina mempunyai karakter Menantang Aktivitas Ekstrim yang di buktikan dengan percakapan “Alex memberitahuku bahwa aku pecandu adrenaline “ (hlm. 131) , “Barangkali kematian yang kucari ada disini sekaligus sedikit saja untuk hidup“ ( hlm 133) “Matahari yang kulihat tadi pagi meleleh kan kulit di sekitarnya ,kecuali aku. Aku bentangkan tangan , lelehkan aku, hancurkan aku, habisi aku, sudahi deritaku” (hlm 71).
Timor mempunyai karakter Ambisius, penuh harapan, dan disiplin seperti halnya dalam kutipan “Di pinggiran Kanal Singel Amsterdam. Timor selalu menyempatkan diri untuk menghampiri patung Multatuli dan membisikkan harapan, bawa aku ke Lebak, di telinga Multatuli yang tuli dan bisu, tapi semesta tidak.” (hlm 81) “Nih Lu lihat deh gaya pakaiannya. Masa umur 20 tapi dandanan kayak orang kantoran usia 30 an Pake kemeja dan celana bahan”(hlm 83).
Alex mempunyai karakter seperti Nina yang mempunyai karakter adrenaline junkie dibuktikan dengan kutipan “Alex yang memilihkan tempat ini, dia juga yang memesan kamar hotel untukku. Sebagai jurnalis senior yang berkali-kali meliput konflik di selatan Thailand”(hlm 35).
Dan Tun yang memiliki karakter Nasionalis dan Periang dibuktikan dengan kutipan “Usianya baru 25 tahun. Periang tapi seperti ke banyakan orang Burma, mereka kadang-kadang tidak tahu apa yang mereka mau” ( hlm 104) “Kami terdiri dari banyak suku bangsa dan ter pecah belah oleh junta. Kami menginginkan rekonsiliasi seluruh bangsa, bersatu untuk demokrasi dan hidup yang lebih baik,” bisik Tun. Amanat yang disampaikan dalam novel ini adalah kita harus bisa mengahadapi suatu permasalahan dengan baik, selesaikan permasalahan satu demi satu dan jangan berlebihan dalam menanggapi suatu permasalahan.
Pendekatan yang ada dalam novel ini, dapat dilihat dari nilai sosiologi sastra.
Author (Sosiologi pengarang), Sosiologi pengarang adalah salah satu yang harus ada dalam Sosiologi sastra, pengarang sebagai pencipta karya terikat oleh status sosial dalam Masyarakat. Masalah yang dikaji antara lain: 1). Latar belakang sosial, 2). Status pengarang, Dan ideologi pengarang.
Nita Roshita, lahir di Jakarta. 24 April 1978. Sepuluh tahun menjadi jurnalis radio untuk KBR 68H, kantor berita radio dengan jaringan terbesar di Indonesia dan Asia. Ia memperoleh fellowship dari SEAPA (South East Asia Press Alliance) 2007, yang mengantarkannya meliput di daerah konflik Thailand Selatan. Baginya menulis merupakan hal yang menyenangkan.Kebiasaan menulis di blog pribadinya membuatnya terbiasa menulis. Sehingga dia Membulatkan tekdanya untuk menulis Novel yang berjudul Tun, Tun merupakan novel pertamanya.
Dalam Karya pertama yang dibuat oleh Nita menceritakan Nina yang kehilangan cinta sejatinya dan terobsesi merancang kamatian nya sendiri, juga mengakrabi soal mati. “Aku mati sejak 2005. Bila setan adalah jiwa yang melayang-layang tanpa raga, maka aku adalah raga tanpa jiwa. Aku tak punya cinta sejak itu. Apa yang lebih buruk dari hidup tanpa cinta, tanpa harapan, tanpa sakit atau bahagia yang didatangkannya? yang kujalani kini hanya rutinitas bernapas, makan, dan tidur Akulah robot yang dikendalikan untuk bekerja dari pukul sembilan pagi sampai lima sore bolehlah kau tambahkan perlu tidur” (hlm 1).
Kondisi sosial masyarakat, kondisi sosial yang serbapenuh dengan konflik, kemiskinan, kematian dan banyaknya pelanggaran HAM “Sebanyak 1000 orang, muda maupun tua ditangkap, ditelanjangi dan diikat pergelangan tangan mereka. Tentara melemparkan mereka ke dalam truk sampai lima lapis ke atas dan membawa mereka ke kamp militer Ingkayutthaboriharn” (hlm 51).
Nilai religi, Secara teoritik, bahwa relasi antara agama dan pemerintahan. Dalam novel ini mengingatkan bahwa lulusan dan ajaran pesantren itu tidak mengandung unsur terpecahnya suatu negara, diceritakan bahwa pada novel itu terjadi pemberontakan dari masyarakat melayu yang terkekang oleh aturan pemerintah bukan karena ajakan atau di pengaruhi oleh agama.
Sosial budaya, novel ini membahas unsur sosial budaya, Dimana banyak orang burma yang kental akan budayanya, “Apa yang dipakai para perempuan dan anak- anak di pipi mereka Tun?” tanyaku sambil terus memperhatikan pipi-pipi dengan warna putih keemasan karena bedak dingin. “We called it Thanakha, kosmetik tradisional Burma yang dibuat dari akar kayu. Wanginya seperti cendana, dipakai di pipi, tapi kalau anak-anak sampai jidat dan leher”. (hlm 114).
Nilai rovolusi dalam novel ini sangat kuat karena novel ini banyak menceritakan perjuangan masyarakat yang penuh dengan konflik di dalam suatu negara, “Masuk dari pintu timur pagoda, ribuan orang berkumpul di tengah. Dengan pengeras suara, para biksu pemimpin aksi meneriakkan “Reconciliation dan disambut teriakan “Our Cause” ribuan orang. Ini lah Saffron Revolution. Revolusi yang dipimpin oleh para biksu. Sedikit salah persepsi karena para biksu di Burma tidak pakai warna saffron (kuning emas) kain mereka berwarna merah tua atau marun Revolu- si ini sudah dimulai sejak awal 2007, diawali oleh mahasiswa dan kini para pemuka agama Buddha turuntangan. (hlm 119).”Kenapa rekonsiliasi yang diteriakkan dan bukan soal demokrasi atau turunkan harga BBM?” tanyaku sambil berbisik pada Tun yang terus meng genggam tanganku. “Kami terdiri dari banyak suku bangsa dan ter pecah belah oleh junta. Kami menginginkan rekons liasi seluruh bangsa, bersatu untuk demokrasi dan hidup yang lebih baik,” bisik Tun.(hlm 120).
KESIMPULAN
Aspek sosial dalam novel ini di golongkan menjadi tiga yaitu (a) cinta dan konflik terhapad permasalahan yang ia temui, permasalahan yang begitu besar yang harus ia lalui dan selesaikan karena menyangkut beberapa negara dan cinta kasih terhadap temannya yaitu abtara laki-laki dan perempuan yang teramat sulit baginya untuk memulai dan ia lalui, tidak ada rasa penerimaan dari salah satu pihak adalah rasa sakit yang tidak dapat diungkapkan sebagai wanita berkarir di bidang intertaiment. (b) kehidupan sosial pada novel ini sangat beragam mulai dari temannya yang berbeda keyakinan ditambah dengan lingkungan yang selalu baru karena selalu berpindah tempat demi menyelesaikan konflik yang terjadi di beberapa Negara dan anatr Negara. (c) revolusi yang diingankan kaum kecil selalu diuahakan, namun apalah daya kareba tidak adanya kekuatan besar maka hal hal yang dilakukanpun terasa sia-sia karena berhadapan dengan kerajaan dan pemerintahan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan dan wawasan tentang nilai sosial untuk kehidupan sehari hari agar kita lebih cerdas dalam menghadapi suatu permaslahan yang kadang-kadang menimpa kita.
DAFTAR FUSTAKA
Roshita, nita. Tun. Jakarta. Motion publishing editor, 2013.
https://www.sampoernauniversity.ac.id/id/karya-sastra-adalah/
https://www.kelaspintar.id/blog/tips-pintar/kelas-7/pengertian-cerita-imajinasi-dan-contohnya-14941/
Komentar
Posting Komentar